Lebaran identik dengan bagi-bagi ang pao. Biasanya ang pao ini diberikan kepada anak kecil (bahkan nggak jarang yang sudah kuliah pun masih dikasih). Karena sasaran utamanya anak kecil, maka prioritas uang yang diberikan adalah yang masih baru, wangi, dan pecahan kecil. Wajar saja kalau banyak penyedia jasa penukaran uang kecil yang berjamuran di tempat-tempat ramai ibu kota. Ada yang gratis (karena difasilitasi Bank Indonesia) dan ada juga yang meminta imbalan jasa.

Kemarin (23/8) saya nyoba menukar uang di Lapangan IRTI Monas. Setelah jalan kaki lumayan jauh dari Stasiun Gambir, akhirnya tiba juga di lokasi penukaran uang. Di sana sudah tersedia banyak mobil bank yang menyediakan fasilitas penukaran uang. Tapi sepi sekali, padahal sudah jam 10.13 siang dan jasa dibuka sejak jam 09.00.

Semula saya heran karena di lokasi itu ada banyak tenda kecil yang disesaki orang (tetapi tidak ada yang menukar uang). Lihat-lihat eh ada satu tenda super besar yang ada tulisan “BUS 1” dan seterusnya hingga “BUS 12” (plus baliho “Pemprov DKI Siap Menyukseskan Arus Mudik 2011”). Alhasil saya mengira tenda-tenda itu untuk memfasilitasi masyarakat yang akan mudik gratis. Wajar saja, karena di musim mudik banyak sekali lembaga–mulai dari perusahaan jamu hingga partai politik–yang menyediakan jasa mudik gratis.

EH ternyata salah besar! Orang-orang di tenda itu juga ingin menukar uang!

Pandangan pertama saya: manajemennya kacau. Jam buka ngaret parah. Tempat antrean disusun berdasarkan nominal uang yang akan ditukar; tapi nasabah tidak diberi tahu kalau antrean seperti itu. Petugas tidak membantu nasabah yang kebingungan. Sekuriti yang seharusnya menjaga keamanan malah berteriak-teriak tidak sopan kepada nasabah.

1. Ngaret. Ngaret cuma karena hal sepele. Ngaret cuma karena mobil kas ingin merapikan barisan. Ngaret juga cuma karena tenda ingin diputar 180 derajat dari posisi semula (ya, 180 derajat! Cuma posisi kanan diganti jadi posisi kiri). Ngaret karena ada nasabah yang rusuh nyerobot antrean, tapi pihak manajemen malah manas-manasin; bukannya memecahkan masalah. Ngaret karena di bawah tenda belum terdapat tempat duduk (padahal sebenarnya tempat duduk nggak penting-penting amat, asal ada nomor urut dan cepat).

Saya nggak bisa membayangkan pekerja kantoran yang sudah meluangkan waktu. Seharusnya proses penukaran (plus antre) paling lama hanya 20 menit, gara-gara ngaret jadi molor sampai 2 jam.

2. Tidak profesional. Di lokasi disediakan banyak tenda dan banyak mobil kas. Karena saya bingung harus antre di mana dan minta jasa ke mobil kas yang mana, saya tanya kepada petugas dan sekuriti. Saya bertanya kepada tiga orang berbeda, dan jawabannya berbeda. Pertanyaan saya sama: ini antre di mana, dan mobil kasnya yang mana?

Jawaban sekuriti satu: “Ya mas silakan antre di tenda itu. Nanti akan diberi tahu mobil kas mana yang untuk umum, dan yang mana yang untuk bank tertentu.”

Jawaban petugas satu: “Antre di mana aja lah, mas..”

Jawaban petugas dua: “Antre di sini aja.”

Jreng. Karena bingung, saya nanya sama orang lain (bukan petugas) yang juga sedang mengantre. Ternyata antrean berdasar nominal yang ingin ditukar! Antrean diurut: 1 juta, 2 juta, dan seterusnya hingga 5 juta. Sampahnya, petugas bilang saya boleh antre di mana saja.

Tapi karena saya bawa 1,5 juta malah bingung. Soalnya tidak ada tempat untuk 1,5 juta. Apakah saya harus tukar satu juta dulu, lalu 500 ribu, saya nggak tau.

Jadi saya nanya ke petugas tiga, dan jawabannya: boleh ngantre di tempat 2 juta, boleh di tempat 1 juta. Tapi kata petugas empat, antre saja di tempat 2 juta: karena di tempat 1 juta tidak boleh tukar lebih dari 1 juta. Eleh-eleh.. Karena bingung dan lebih baik ambil amannya, saya ikuti petunjuk petugas empat.

Betapa buruknya koordinasi antara petugas dengan bawahan.

3. Buang waktu hanya untuk hal nggak penting. Namanya buka jam 09.00, seharusnya manajemen sudah siap sejak (setidaknya) setengah jam sebelum buka. Kalau tenda tidak rapi, rapikanlah sebelum pukul 09.00. Kalau kursi belum dibagikan, bagikanlah sebelum pukul 09.00. Kalau parkir mobilnya kurang lurus, luruskanlah sebelum pukul 09.00. Sayangnya, hal-hal remeh itu baru dilakukan pada pukul 10.16. Nasabah dibiarkan kepanasan di bawah tenda.

4. Sekuriti ikut ramai. Di antrean 4 juta ada kerusuhan. Mungkin karena yang menukar uang kebanyakan berasal dari golongan menengah ke bawah, nasabah cenderung tidak sopan dan tidak bisa menahan emosi.

Di sana para nasabah berantem menentukan siapa yang berhak menukar uang duluan. Bayangkan Anda duduk di meja kelas. Bayangkan Anda di deret pertama. Nah, pojok kanan depan dengan pojok kiri depan berantem ingin nukar uang duluan. Saya pikir sekuriti harusnya punya mental kuat (dan punya hak!) untuk menentukan siapa yang duluan. Sayang sekuriti cuma manas-manasin saja. Masalah sepele seperti itu harus diselesaikan hingga 10 menit lebih. Bah.

Nggak lama, ada saja yang nyelak antrean. Entah karena faktor panas dan sedang puasa maka tidak bisa menahan emosi atau bagaimana, eh lagi-lagi sekuriti ikut ribut. Suram.

Payahnya antrean selain 4 juta yang adem ayem ikut jadi korban. Seharusnya penukaran sudah dimulai sejak zaman Cleopatra, tapi gara-gara 4 juta semua antrean harus ikut mulai nukar pada zaman Doraemon.

*****

Akhirnya mulai mengantre. Di antrean 2 juta tidak ada nomor urut, padahal di antrean lain ada. Ya sudahlah, yang penting antre.

Uang yang saya tukar nominalnya 1,5 juta rupiah. Yang ingin ditukar rinciannya: Rp20k sebanyak Rp500k; Rp10k sebanyak Rp500k; Rp5k sebanyak Rp300k; dan Rp1k sebanyak Rp200k. (k = ribu)

Ternyata uang yang ditukar hanya bisa bendelan. Contohnya kalau mau nukar dengan 10 ribuan, harus sebanyak satu juta rupiah (karena satu bendelnya 10 ribuan itu totalnya satu juta). Seribuan seharusnya tidak diberikan, mungkin karena seribuan kian langka. Herannya kok ya informasi seperti ini tidak diberitahukan.

Untungnya (atau buruknya?) petugas penukaran uang berbaik hati. Dia menawarkan satu juta rupiah ditukar dengan 5 ribuan, 400 ribu ditukar dengan 2 ribuan, dan sisanya dengan seribuan. Padahal seribuan seharusnya tidak diberikan kepada nasabah. Ketimbang harus menelpon orang tua dan mengantre lagi dari awal, saya bilang iya saja.

****

Itulah pengalaman saya yang pertama kali dengan jasa penukaran uang paling besar di Indonesia. Ya, katanya Lap. Parkir IRTI adalah pusat penukaran uang terbesar yang dibuka oleh BI. Kesan saya: semrawut dan tidak profesional.

Sayang baterai ponsel saya kritis, jadinya nggak bisa ambil gambar situasi penukaran uang (yang heboh).

Saran saya buat yang ingin menukar uang, datanglah siang-siang, atau pagi sekalian. Resiko datang pagi: kalau ngaret, Anda belum tentu berada di nomor urut pertama. Resiko datang siang: bisa-bisa Anda tidak mendapatkan uang receh yang diharapkan.

Bawa tas sendiri untuk meletakkan uang kecil. Pihak bank hanya memberikan amplop kecil yang tentu tidak cukup untuk menyimpan uang.

Hitung uang sejak di rumah. Siapkan berapa nominal yang akan ditukar dengan uang tertentu sejak dari rumah. Dan, mengantrelah dengan tertib.