TEMPO Interaktif, Jakarta – Ratusan orang dari sejumlah organisasi massa Islam melakukan sweeping terhadap rumah makan dan restoran yang buka pada siang hari di kawasan Puncak, Bogor. Aksi mereka dimulai di Masjid Harakatul Janah, Simpang Gadog, Bogor, pada pukul 11.00 WIB kemarin.

Tampak di antara mereka kelompok Laskar Pembela Islam dan Front Pembela Islam. Terlibat pula Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cisarua dan Megamendung. Sebelum massa beraksi, polisi dari Kepolisian Resor Bogor, Polsek Megamendung, dan Polsek Cisarua memberi pengarahan. Massa diminta tak berbuat anarkistis.

Lalu dengan mengendarai ratusan sepeda motor dan sejumlah mobil, rombongan berpakaian putih-putih itu bergerak menuju Masjid Atta’awun di kawasan Puncak Pass, Desa Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor. Di tengah perjalanan, mereka menyambangi restoran maupun rumah makan yang dicurigai tetap buka.

Dari pantauan Tempo, sedikitnya ada tujuh warung nasi yang ketahuan buka. Massa pun merangsek masuk. Sebagian berteriak-teriak di luar. “Bongkar! Bongkar! Tolong hormati umat Islam yang sedang puasa,” mereka berseru.

Hihihi..

Lucu ya kelakuan mereka? Sebenarnya saya heran gimana bisa “rumah makan buka saat Bulan Ramadhan itu sama saja dengan tidak menghormati umat Muslim yang sedang melakukan ibadah shaum”. Karena sudah barang tentu umat Muslim yang sedang shaum (atau puasa) tidak akan pergi ke rumah makan! Tentunya umat Muslim tidak terganggu!

Toh, kalau ada orang yang makan di rumah makan saya juga nggak bernafsu sama sekali.

Rumah makan sah-sah saja buka. Karena pasti ada saja saudara kita sesama Muslim yang karena kondisi yang tidak menguntungkan maka tidak berpuasa. Misalnya orang tua atau orang sakit. Seandainya mereka tidak bisa masak sendiri atau sudah sebatang kara, tentunya cara termudah supaya tidak merepotkan orang lain adalah dengan membeli makanan. Kalau warung makan saja disuruh tutup, mereka mau makan dari mana?

Tentunya kita juga harus menghormati kawan-kawan kita yang non-Muslim. Masa suruh mereka terus yang menghormati kita dengan tidak makan di depan kita? Tentunya bolehlah kita bertoleransi memberi kesempatan mereka makan. Toh kita sebagai umat Muslim juga tidak rugi suatu hal apapun.

Ada baiknya Anda baca berita ini secara keseluruhan dari tautan ini. Mereka bikin kesepakatan (yang nampaknya sepihak) yang berisi “rumah makan hanya boleh buka pukul 17.00 hingga sahur”. Lucu ya, padahal seharusnya tutup pada pukul 17.00 hingga sahur. Karena ibadah malam di Bulan Ramadhan itu adalah suatu keutamaan. Bukan berarti ibadah siang tidak utama. Namun setidaknya jam tutup pukul segitu malah mendukung pemilik warung untuk shalat tarawih, qiyamul lail, dan ibadah malam lainnya. Kalau jam segitu suruh tutup, tidakkah itu sama saja dengan melarang mereka beribadah?

Aduh hihihi.. geli saya dengan kelakuan mereka yang membawa panji-panji Islam ini.

Tentunya saya tidak bisa serta-merta menghakimi kalau mereka salah. Jadi saya coba mencari dalil larangan untuk berdagang makanan di saat siang hari Bulan Ramadhan. Ternyata pencarian saya berbuah nihil. Yang ada justru perintah untuk toleransi.

“Lemah lembut terhadap kaum mukminin” —Al Maidah: 54

Kalau direnungkan, seharusnya kita berlaku lemah lembut dan toleransi terhadap para pedagang makanan tersebut. Sekarang bayangkanlah jika pedagang tersebut tidak boleh berjualan makanan sepanjang bulan Ramadhan. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkan penghasilan bukan? Padahal mereka juga memiliki hak untuk hidup. Berarti dengan melarang mereka berdagang sama saja merampas mata pencaharian mereka.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” —QS. An Nisa’ 29

Dan yang pasti, peduli apa sih orang yang berpuasa terhadap orang yang makan. Justru dengan banyaknya warung makan yang buka (dan orang-orang yang makan di dalamnya) seharusnya makin meningkatkan kualitas puasa kita.

Penutup

Penulis tidak setuju dengan ditutupnya rumah makan saat puasa. Hal ini karena beberapa faktor penting:

1. Pengusaha rumah makan juga butuh uang untuk menafkahi keluarga. Apalagi jika rumah makan tersebut tergolong besar dan memiliki banyak karyawan. Tentu kasihan jika sekian ratus kepala keluarga tidak mendapat nafkah selama satu bulan–padahal di bulan Ramadhan dan Syawal, pengeluaran justru bertambah.

2. Dengan adanya Bulan Ramadhan, tidak berarti seluruh masyarakat tidak boleh makan minum. Islam saja masih memperbolehkan umatnya untuk tidak berpuasa karena suatu hal, masa sebuah ormas sebegitu sombongnya melarang suatu masyarakat untuk makan?

3. Dengan adanya rumah makan yang buka seharusnya meningkatkan kualitas puasa kita. Hal ini karena semakin banyak cobaan, semakin kuatlah iman seseorang. Insya Allah.

4. Tidak ada dalil yang melarang jual beli makanan pada siang hari Bulan Ramadhan.

5. Justru pada malam hari seharusnya mereka tidak berdagang. Seharusnya mereka (pedagang dan karyawan) konsentrasi kepada ibadah malam mereka.

6. Jika siang hari rumah makan tutup, maka mereka (pedagang dan karyawan) disuruh apa? Ketimbang plangah-plongoh ngobrol sana-sini (atau tidur), alangkah lebih baiknya jika berdagang dengan niat karena Tuhan. Ditambah dengan menyempatkan beribadah saat tidak ada pelanggan. Karena sepengalaman saya, nganggur di rumah ujung-ujungnya malah waktu terbuang sia-sia.

Itu saja lah, kalau kepanjangan mungkin Anda juga malas membacanya.