Tadi malam saat tarawih di masjid, khotib berkhotbah dengan materi yang cukup menggelitik. Jadi, izinkan saya share di sini.

1. Ibadah itu tidak cuma sekedar Hablumminallah, tapi juga Hablumminannas!

Pertama-tama khatib menekankan, kalau ibadah harus Rabbani, bukan Ramadhani. Maksudnya, ibadah harus keseluruhan. Karena Allah. Bukan karena Ramadhan.

Jadi, nggak mentang-mentang Ramadhan, ibadah terus. Tapi setelah Ramadhan, nggak sama sekali. Kemudian lanjutlah ke ibadah dua dimensi.

Alkisah ada seorang alim bernama Muaz bin Jabal. Beliau hidup pada masa Rasulullah saw. Muaz adalah orang yang cerdas; perawakannya bagus; hafal seluruh Quran; dan tutur katanya pun lembut.

Suatu hari, Muaz mengimami shalat. Karena mempunyai semangat beribadah tinggi dan hafalan yang baik, maka beliau membaca surah Al Baqara: 1-286 sebagai “surah pendek”. Al Baqara itu dibacanya dalam satu rakaat. Jelas saja, ketika Muaz mengucapkan salam–shalat selesai–jamaahnya sudah pergi semua.😀

Muaz pun heran. Akhirnya ia pergi menemui Baginda Rasulullah saw. Muaz menanyakan hal ini. Namun ternyata, Rasulullah sudah mengetahui terlebih dahulu tentang “insiden shalat dengan bacaan superpanjang” ini. Ditegurlah Muaz,

“Wahai Muaz, kalau kau ingin beribadah, jangan hanya melihat kemampuanmu sendiri! Lihatlah siapa yang kamu imami!” kurang lebih seperti itu nasihat Rasul. Bisa jadi yang diimami Muaz adalah kaum yang sudah sepuh. Sehingga karena kelelahan, mereka cao.

Ada lagi kisah lain. Masih tentang tidak boleh egois dalam ibadah. Masih juga di zaman Rasulullah saw. Ketika itu, ada umat Rasulullah yang senang sekali makan bawang merah dan bawang putih.

Jadi kronologisnya adalah, si fulan ini sedang menyantap hidangan makan malamnya. Karena si fulan ini senang makan bawang, dia makan bawang cukup banyak. Lalu saat adzan berkumandang, si fulan langsung pergi ke masjid.

Kebetulan di masjid, fulan berada di shaf pertama. Tepat di belakang imam. Imamnya Rasulullah. Eh, sebelum shalat si fulan ini tidak menggosok giginya terlebih dahulu.

Shalatlah mereka. Saat Nabi mengucap, “Waladdhaaaalliiin,” si fulan mengucap, “Aaaaamiiiin” dengan sangat keras. Nampaknya Nabi Muhammad terganggu dengan si fulan ini.

Benar saja. Selesai shalat, Nabi langsung berdiri dan bertanya, “Siapa yang barusan makan bawang dan tidak bersiwak terlebih dahulu?” Lalu si fulan menjawab, “Saya, Ya Rasulullah!”

Rasulullah berkata, kurang lebih “Janganlah sekali-kali kamu pergi ke masjid untuk shalat berjamaah lagi, jika kamu habis makan bawang!” Akhirnya fulan menyadari kelakuannya telah mengganggu orang lain.

Dari dua kisah ini bisa diambil kesimpulan bahwa, kalau ingin beribadah, jangan hanya mementingkan diri sendiri dan semata-mata untuk Allah saja! Lihat juga lingkunganmu. Perhatikan hubungan dengan sesama manusia, apakah akan mengganggu atau tidak. Karena sebenarnya, ibadah itu haruslah memandang dari 2 dimensi: dimensi kepada Allah, dan kepada sesama manusia.

Jika dimensi kepada Allah sangat baik, namun sayang kepada sesama manusia buruk, maka tidak sempurnalah ibadahnya. Sebagai contoh, tabligh akbar. Alkisah ada tabligh akbar yang benar-benar akbar. Eh sayangnya si event organizer-nya menggunakan jalan raya yang merupakan jalan utama lalu lintas menuju Depok sebagai tempat tabligh. Karena menggunakan jalan raya yang ramai, tak pelak lalu lintas menjadi lumpuh. Banyak orang yang mengumpat-umpat di internet dan radio.

Seharusnya si Habib ini tidak hanya memperhatikan segi ibadah kepada Allah. Namun juga memikirkan dampaknya bagi orang lain. Orang se-Jakarta. Karena kalau banyak orang yang tidak ikhlas jalan dijadikan tempat acara, siapa yang tahu kalau ibadah tersebut ternyata tidak diterima oleh Yang Maha Esa?

2. Jadilah pohon kelapa, jangan jadi macan.

Islam adalah agama yang baik. Islam juga menginginkan umatnya menjadi pohon kelapa, bukan macan.

Walaupun dia tumbuh di pantai, namun air kelapa tidak pernah asin. Hal ini bisa dilambangkan bahwa, umat Islam seharusnya tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Harus punya karakter. Tidak semata-mata karena orang menganggap a benar, maka ia ikut-ikutan bahwa a lah yang benar.

Lalu pohon kelapa itu bisa dimanfaatkan. Buahnya bisa dimakan atau dijadikan santan. Airnya segar. Kayunya bernilai jual tinggi. Tulang daunnya bisa dijadikan lidi. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan kerajinan. Batoknya bisa dijadikan gayung, dan masih banyak lagi.

Seperti inilah umat Islam seharusnya. Bukan menjadi macan, yang serba sok. Mulutnya bau pula.

3. Hasad

Menurut Imam Al Ghazali, hal yang akan digantung (literally) pertama kali saat hari kebangkitan nanti adalah hasad. Iri hati. Hasad itu sendiri ada dua: hasad baik dan hasad buruk.

Nah, hasad yang buruk ini berbahaya. Hasad buruk adalah, jika tidak suka dengan keadaan orang lain yang lebih baik dari kita, dan berharap orang itu jatuh. Jika ada seseorang yang amalan ibadahnya baik, namun sayang seribu sayang ia sering hasad, maka tak pelak amal ibadahnya menjadi berkurang. Bahkan tidak ada lagi. Atau minus.

Jadi kronologinya begini. Anggaplah ada x yang amalannya sedang ditimbang. Menurut sang khotib menurut Al Ghazali, ceritanya si x ini amalannya tinggi. Namun, ada y yang datang dan berkata, “Dahulu dia hasad kepadaku!”

Lalu bertambahlah amalan buruknya. Eh, ada lagi z datang dan berkata, “Dia juga hasad kepadaku!” Bertambah lagilah amalan buruknya. Begitu terus sampai si x ini tenggelam ke tanah.

Itu kalau hasad buruk. Contohnya kalau teman Anda punya smartphone super keren, Galaxy S II katakanlah. Eh tiba-tiba Anda punya niat jelek, “Ah, dia kan nggak pantas mendapat itu! Saya lebih pantas! Dia harusnya punya nokia monokrom saja!” Itulah hasad buruk.

Lain halnya dengan hasad baik. Misalnya ada orang pintar yang benar-benar pintar dan cerdas. Namun karena kecerdasannya, Anda menjadi termotivasi supaya bisa menyaingi dia. Tanpa ada niatan supaya dia jatuh dan menjadi bodoh. Ini iri yang membuat motivasi dan bisa menaikkan derajat diri.

Wallahu alam