Ini cuma dumelan dan hasil mikir-mikir saya, kalau mau marah silakan…

Sudah sekian minggu ini saya nemenin adik yang masih kelas VI mencari buku pelajaran. Mending kalau bukunya mudah dicari. Sayangnya, buku yang ada di daftar ini membutuhkan perjuangan untuk sekedar menemukannya. Baguslah kalau gurunya toleransi terhadap murid yang belum membawa buku–atau buku yang dibawa berbeda dari daftar yang ada. Nah kalau sampai memberi sanksi fisik yang tak patut, apa jadinya?

Sejak keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan yang melarang sekolah menjual buku, praktis sekolah tidak menjual buku pelajaran sama sekali. Murid hanya diberi daftar buku pelajaran oleh pihak sekolah, dengan maksud murid mencari buku itu sendiri.

Meskipun maksud pemerintah baik–untuk menghindari sekolah sebagai media bisnis–namun nampak keterlaluan. Karena tak terbayangkan jutaan orang tua murid yang kebingungan mencari buku pelajaran anaknya. Intinya, kalau anak gue gak dapat buku penerbit x dengan penulis y, jadinya bahaya.

Sistem satu jenis buku telah meracuni seluruh sekolah di Indonesia. Dengan satu buku, takutnya yang diketahui cuma dari buku itu tok. Padahal, ilmu pengetahuan tidaklah statis, tetapi dinamis. Selain itu, dengan banyaknya jenis buku yang ada di suatu kelas akan membuat anak bersaing. Dan, anak diharapkan suka membaca buku karena mengetahui bahwa “tidak ada satu buku yang isinya benar semua dan lengkap semua. Buku, layaknya manusia, memiliki kelemahan dan kelebihan”.

Seharusnya dengan dilarangnya sekolah menjual buku, sekolah juga dilarang untuk memberi daftar buku yang wajib dibeli siswa. Karena sesungguhnya “sistem satu buku” lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.

Contoh, dengan sistem satu buku, pembajakan merajalela. Bayangkan Anda adalah seorang murid, yang disuruh mencari buku dengan penerbit x dan penulis y. Atau, kalau tidak punya, Anda kena hukuman fisik. Anda sudah mencari hingga ke ujung dunia, namun tidak menemukan buku tersebut karena penerbitnya sudah tidak menerbitkan lagi, misal. Eh, ada satu teman Anda yang beruntung, mendapatkan eksemplar asli terakhirnya. Tak pelak Anda dan teman-teman Anda memfotokopi buku miliknya. Dari sini, anak sudah diajarkan membajak. Padahal, membajak dilarang negara dan agama.

Kemudian, dengan sistem satu buku, saya takut guru jadi malas membaca dan mencari tahu hal baru. Hal ini tercermin ketika guru IPA SD saya tidak mengetahui kalau Pluto bukanlah planet di tatasurya kita lagi–hanya karena kurikulum buku yang dipakai belum direvisi. (Semoga cuma saya yang mengalami). Teman-teman saya pun percaya, karena mereka hanya terpaku pada buku yang sudah buluk tersebut. Ini benar-benar terjadi. Padahal, ilmu pengetahuan itu berubah terus seiring berkembangnya zaman, tidak mati.

Nah, karena bukunya hanya satu jenis, takutnya lagi guru jadi malas mencari sumber baru yang kreatif. Cara mengajar menjadi konservatif, tidak menarik dan cendeung menjemukan. Simbol “guru” hanya sekedar pekerjaan, bukan profesi yang harusnya ditekuni dari hati untuk mendidik anak kecil yang masih polos dan tidak tahu apa-apa. Guru hanya mengajar apa yang ada di buku pelajaran yang dipakai. Soal-soal pun hanya diberi dari buku pelajaran yang ada. Ini menyedihkan karena belum tentu buku yang dipakai di sekolah itu bagus. Bisa jadi walaupun buku yang dipakai berasal dari penerbit terkenal, namun isinya menyedihkan. Guru jadi pasif, murid juga ikutan pasif. Padahal, dengan banyaknya jenis buku, diharapkan ada interaksi positif antara murid dengan murid sedari dini. Penggunan satu buku dapat diibaratkanseperti katak dalam tempurung. Padahal, menurut teori seleksi alam, keanekaragamanlah yang membuat suatu populasi menjadi kuat dan dominan! Sementara yang cenderung klon (sama, sejenis, identik) tak lama akan musnah!

Lalu dari segi penerbit buku, mereka cenderung tidak memiliki daya saing. Karena murid sudah keduluan dicekoki oleh guru bahwa “penerbit x lah yang paling baik!” dan “Lo harus beli buku penerbit y!” Jadinya banyak penerbit baru yang isinya lebih menarik, kalah saing dan mati.

Nah, takutnya karena efek-efek tersebut, tak pelak pendidikan kita tidak maju-maju. Murid yang diluluskan sering hasil lulus dari contekan. Banyak wakil rakyat yang gelar sarjananya beli gara-gara malas baca buku. Dan yang paling parah, sampai ada warga satu desa yang memusuhi seorang orang tua murid karena melaporkan tindak pencontekan! How cruel!

Kenapa saya mikir gini? Karena saya merasakan sendiri efek baik dan buruk dari “sistem satu buku” dan “sistem bebas buku apa saja”. Saat saya SD, buku hanya terdiri dari satu jenis, maka teman saya yang tidak pernah membaca ya, ilmunya dari situ saja. Ketika saya SMA, guru saya (terutama MIPA) tidak mewajibkan muridnya untuk membeli buku penerbit x. Dan alhasil, anak yang memiliki referensi bacaan lebih luas, nilai ulangan dan pencapaian ilmunya lebih baik! Ini bukan omong kosong.

Selain itu, dari bermacam-macamnya buku yang beredar, guru diminta lebih aktif mengajar dan banyak membaca. Karena, bayangkanlah kalau guru memberikan informasi yang sangaat berbeda dari buku yang dipegang murid! Pasti guru tersebut tidak dipercaya lagi oleh muridnya.

Dan efek belajar dari satu sumber, masih bisa saya lihat dari guru yang membuka Windows Explorer hanya (dan hanya) dari mengklik kanan tombol “Start”, kemudian memilih “Explore Program”! Padahal, membuka Win Explorer bisa dari Recycle Bin, My Computer, atau bahkan Control Panel.

Tak terbayangkan betapa menyedihkannya jika insan penerus bangsa ini bodoh dan hanya percaya pada satu sumber. Padahal, wahyu yang pertama kali diturunkan di agama saya adalah jalan menuju peradaban maju: BACALAH!

Dan penyampai wahyu yang sungguh mulia pun berkata, Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina!