Ada yang sudah pernah nonton video ini:

atau

atau

atau ini?

😀

Gila ya, saya salut banget sama mereka. Sejak tahun 1991 sampai sekarang, kereta rel listrik tetap saja penuh seperti itu. Tapi para komuter tetap bepergian naik kereta.

Nampaknya yang membuat para komuter tidak beralih dari kereta adalah ketepatan waktu yang luar biasa, serta jarak antar kedatangan yang hanya dua menit.

Memang, pemerintah Jepang juga membatasi kendaraan pribadi yang berseliweran di jalan. Tapi, jika kualitas transportasi umumnya memble—jarak antar kedatangan lama dan tidak tepat waktu—hampir pasti warga Jepang akan beralih ke kendaraan pribadi.

Namun yang paling hebat, terlepas dari tiga faktor di atas, adalah mental baja para ikan sarden di dalam besi ini. Seperti yang saya lihat dari temannya teman saya ini…

Teman saya, seorang railfans, punya banyak teman railfans (sekaligus komuter) dari Jepang. Suatu ketika si RF Jepang ini ditunjukkan foto KRL Jabotabek saat rush-hour. Dia pun mengomentari foto tersebut.

Hebatnya, dari komentarnya, tidak terlihat ada iktikad dari dirinya untuk ikut-ikutan naik di atas atap. Atau bergelantungan di pintu. Sedikitpun. Padahal—berani taruhan—KRL Jepang saat rush-hour jauh lebih gila daripada KRL Jabotabek.

Dia tidak mengeluhkan betapa sumpeknya KRL Jepang saat rush-hour. Dan, dia juga tidak mengeluhkan adanya oshiya, atau para pendorong penumpang supaya masuk ke dalam kereta. Nampaknya dia sangat legowo.

Saya cuma bisa… “Gila, gue payah banget. Dikit-dikit ngeluh.”

—–

Btw, penduduk Jepang adalah penduduk yang paling mengandalkan kereta sebagai moda transportasi di dunia. 27%  pergerakan di Jepang didukung oleh kereta. Padahal, kereta di Jerman hanya mendukung 7,7%, Inggris 6,4%, dan Amerika 0,6%.

Kira-kira dulu Akio Morita, Eiji Toyoda, dan Matsushita mengandalkan kereta sebagai alat transportasi domestiknya nggak ya? Hehe