Di malam hari yang sejuk, sepasang suami istri sedang bersantai di bawah rimbunnya pohon dengan ditemani sinar rembulan. Sang suami berkata,

“Istriku, aku cinta padamu, dengan setulus hati.”

Dengan nada bercanda, sang istri bertanya,

“Kalau begitu, coba buktikan tulusnya cintamu padaku!”

Sayangnya, sang suami menganggap serius. Dibuat bingunglah dia oleh pertanyaan istrinya yang amat dicintainya. Hingga akhirnya diberanikannya untuk menjawab,

“Ya, kamu bisa lihat sendiri kan. Sejak dulu, aku hanya jatuh hati padamu seorang. Apa yang kamu inginkan, kuberikan. Bahkan setiap sepulang kerja, aku selalu menyempatkan diri untuk menemani dirimu. Tidakkah itu menggambarkan betapa tulusnya cintaku?”

Namun, sang istri yang senang suaminya kelabakan, makin jahil,

“Ah, kalau hanya itu, siapapun juga bisa memberikan! Tidak perlu cinta, bahkan setulus hati! Hahahaha…”

Sang suami benar-benar dibuat panik. Karena takut sang istri lari dari pelukannya, dia semakin berusaha untuk membuktikan bahwa cintanya yang setulus hati hanya untuk sang istri.

Hmm… semoga narasi di atas cukup menjelaskan akan adanya Tuhan. Tuhan itu layaknya cinta:

Dia memang ada, benar-benar ada.

Hanya yang percaya, yang dapat merasakan adanya Tuhan,

dan yang skeptis, tidak percaya akan adanya Tuhan,

walaupun dibuktikan dengan berbagai materi yang menggunung banyaknya.

***

Itu menurut saya. Bagaimana dengan Anda?