Rating: 8.4/10

Jepang, negara yang akhir-akhir ini diagung-agungkan karena kecepatan dan ketepatannya dalam menjinakkan reaktor nuklir, ternyata 150 tahun lalu hanyalah negara kacangan. Dahulu, Jepang hanyalah negara agraris yang tertutup, feodal, konservatif, dan terbelakang. Sumber daya alam pun tak ada, sehingga negara barat pun malas untuk sekedar “mampir minum teh”. Namun, bandingkanlah dengan saat ini. Walau sempat dihabisi saat Perang Dunia II, saat ini Jepang menjadi kiblat sebagai negara idaman. Apa rahasianya?

Kisah dinyalakannya lilin di tanah Jepang bermula pada tahun 1853. Empat kapal besar memasuki perairan Edo, yang saat ini menjadi Tokyo. Besar, kokoh, terbuat dari baja, dan mengeluarkan asap hitam yang membubung tinggi. Mereka adalah Mississippi, Plymouth, Saratoga, dan Susquehanna. Kapal milik Amerika.

Tak ayal, melihat benda besar dan asing itu rakyat Jepang menjadi ketakutan. Sebab, di masa itu kapal-kapal Jepang hanyalah kapal kayu murahan yang digunakan untuk menjala ikan.

“Berikan apa yang kami minta atau kami akan datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar,” ujar Laksamana Perry, komandan pasukan yang memimpin pergerakan ke Jepang.

Pemerintah Tokugawa yang sadar diri akan kelemahan diri mereka, hanya bisa pasrah. Toh Amerika hanya ingin menjadikan Jepang sebagai tempat persinggahan, mungkin itu pikirnya. Rakyat Jepang yang menganggap tindakan klan Tokugawa sebagai penghinaan atas tanah suci Jepang, tidak mau diam.

Hingga akhirnya pada 1862, seorang pengusaha Inggris Richardson, berjalan-jalan di Namugi. Kemudian mereka berpapasan dengan daimyo yang anti orang asing. Sementara seluruh rakyat Jepang duduk bersimpuh kepada pembesar daimyo, Sir Richardson hanya menatap kagum dari atas kudanya. Richardson yang tidak mengetahui adat istiadat Jepang, menemui ajalnya.

Tentu saja Inggris marah. Inggris membawa armada besarnya untuk menghabisi rakyat Jepang. Jepang yang saat itu senjata tercanggihnya hanya berupa samurai, kalah telak oleh Inggris yang persenjataannya sudah menggunakan pistol dan meriam.

Namun hebatnya, dengan segala kerendahhatian rakyat Jepang, mereka tidak marah. Mereka justru penasaran akan hebatnya persenjataan Jepang. Petinggi Jepang justru memanjakan orang barat, dengan harapan bangsa Jepang bisa belajar banyak dari orang-orang barat. Hingga akhirnya muncullah kebijakan yang dinamakan Restorasi Meiji, kebijakan yang membawa Jepang dari gelap menuju terang.

Itulah salah satu kisah dari buku ini, tentang asal mula Jepang yang sangat terbelakang menjadi negara yang sangat maju seperti saat ini. Tentunya, yang ada di buku ini bukan sekedar kisah dari negeri matahari terbit saja.

Di awal buku, kita disuguhi gemerlapnya kehidupan di kota besar di negara maju. Hingga akhirnya mungkin Anda akan terbayang, “Seandainya saja saya bisa hidup di negara maju seperti ini.”

Berlanjut ke bab berikutnya, masuk kepada kisah negara yang akan menjadi maju. Bagaimana awal mula mereka; mengapa mereka bisa maju, padahal semula hanya negara terbelakang; apa yang membuat mereka maju, dan apa yang membuat mereka runtuh.

Kisah yang disajikan tertata secara apik dan dalam timeline yang berurutan. Sehingga seolah-olah kemajuan suatu negara adalah sebuah “piala bergilir” yang tidak mungkin diraih oleh dua negara secara bersamaan.

Buku ini sarat akan wawasan dan sejarah. Banyak kisah yang dijelaskan secara mendetail. Namun sayangnya, tak sedikit pula yang hanya asal dijelaskan.

Yang membuat buku ini kurang, banyak statement yang dinyatakan berulang-ulang hingga pembaca akan merasa bosan, terutama pada bab kemajuan negara Islam zaman era keemasan Islam, dan bab kemajuan Jepang. Selain itu, banyak quote yang sebenarnya tidak begitu penting dan tidak memakan tempat, namun diletakkan dalam text-box yang besarnya mencapai satu halaman. Dua hal ini membuat buku menjadi sangat tebal.

Selain itu, ada pula analogi yang salah. Sebagai contoh, di buku terdapat ulasan mengenai perjalanan dengan kecepatan cahaya. Analoginya, jika saya terbang dengan kecepatan cahaya selama 5 tahun waktu saya, maka di bumi telah mencapai waktu selama 25 tahun.

Namun sayangnya, di buku ini disebutkan bahwa, jika Anda berjalan di luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya selama 5 tahun, maka waktu di bumi akan berjalan selama 50 tahun. Padahal, maksimal perbedaan relativitas waktu adalah kuadrat lamanya. Jadi, jika berjalan di luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, di bumi paling banter waktu akan berjalan selama 24,99 tahun. Selain itu masih ada fakta lain yang sepele namun salah. Mohon  kepada editor untuk diperbaiki.

Meskipun begitu, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapapun, terutama pemimpin negeri ini, atau calon pemimpin negeri Indonesia tercinta ini.

Metadata:

Judul: Imperium III – Zaman Kebangkitan Besar; Bahasa Asli: Bahasa Indonesia; Penulis: Eko Laksono; Penerbit: Hikmah; Jilid: softcover; Jumlah halaman: xxiv + 523; Harga: Rp87.000,00