Sore tadi tumben-tumbenan saya nonton tv. Setelah gonta-ganti channel beberapa kali, akhirnya tibalah ke CNN yang memberitakan Portugal mengalami kebangkrutan (bailout). Tapi itu nggak bikin saya tertarik. Pindah lagi ke Al Jazeera yang menayangkan People and Power. Kebetulan tayangan berdurasi 30 menit itu pada hari ini bertema rakyat Jepang, khususnya di Prefektur Miyagi, yang menjadi korban keganasan tsunami.  Beginilah ringkasan acaranya.

Ringkasan tidak terlalu lengkap karena saya telat nonton sekitar 4 menit. Dimulai dari scene yang menggambarkan perasaan warga Jepang akan dampak tsunami.

“Ini adalah gempa paling dahsyat yang pernah saya alami. Ketika saya mendengar alarm evakuasi, saya segera mengasingkan diri. Tidak lama, terdengar bunyi gemuruh. Gelombang itu datang, dan menerjang semuanya,” kesaksian seorang tua yang melihat gelombang meluluhlantakkan desanya.

Dilanjutkan dengan wawancara kepada seorang tua lain, yang sedang menyusuri rel kereta api.

“Ah, di sana sedang ada evakuasi. (hening) Ya, benar saya sedang menunggu istri saya. (hening)Ah? Mereka sudah mulai mengevakuasi? (hening) Saya harus ke sana,” ujar seorang tua, dan segera berjalan menuju tempat tinggalnya.

Dipertontonkanlah desanya yang telah porak-poranda terkena tsunami. Sampah yang berserakan di situ kebanyakan ialah sampah kayu bekas bangunan yang runtuh. Kemudian seorang tua tersebut memberitahukan Al Jazeera, bahwa dahulu rumahnya berdiri kokoh di lokasi tepat dia berdiri. Kemudian bersama anak perempuannya, mereka mengais-ais barang yang mungkin masih berguna.

“Ah, ini sebatang sabun dari rumahku! Haha, tapi apalah gunanya sabun, ya kan?” ujar seorang perempuan kepada Al Jazeera.

Scene berganti hari, menjadi keesokan paginya.

Tong teng nong neng.. Selamat pagi kami ucapkan kepada seluruh warga. Kami akan mengumumkan sebuah informasi, bahwa pada siang hari ini akan dilakukan pembersihan lokasi bekas terjangan tsunami. Apabila ada warga yang ingin menyelamatkan harta benda, harap segera diamankan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Neng nong teng tong…” Bunyi pengeras suara dari pemerintahan.

“Sayang sekali, semua di sini akan  dibersihkan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Buku tabunganku serta (maaf terlupa-pen) masih belum bisa kutemukan. Ah, sudahlah…. Yang jelas, aku akan selalu di sini menunggu istriku,” ratap si kakek itu dengan sedih.

Scene berpindah ke kawasan perkotaan.

Tampak kapal besar yang nyasar: seharusnya kapal berlayar di lautan, tetapi ini malah mengarungi jalanan aspal. Banyak toko tutup. Di mana-mana terjadi kelangkaan: air minum, bahan makanan, hingga bahan bakar. Disebutkan oleh narator bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi mengatasi krisis nuklir, sehingga kebutuhan korban tsunami sedikit dilupakan. Dan scene berpindah lagi ke jumpa pers oleh seseorang—entahlah siapa, yang jelas dari pemerintahan—yang menyatakan bahwa itu tadi, pemerintah berkonsentrasi kepada krisis nuklir. Dan para korban diminta tetap bersemangat menjalani hidup.

Pengeras suara di perkotaan berbunyi. Masih dari pemerintahan, tentu.

Teng tong neng nong… Selamat pagi, saat ini adalah hari kesepuluh terhitung sejak tsunami meluluhlantakkan kota. Air bersih sudah mulai tersedia, warga dipersilakan untuk mengantre. Tetaplah bersemangat dalam menjalani hidup ini, dan yakinlah bahwa kemudahan akan datang! Neng nong teng tong…

Narator menjelaskan, bahwa sejak kejadian tsunami air bersih merupakan barang sangat langka. Bahkan bahan makanan di minimarket mulai habis. Scene: antrean warga yang ingin masuk supermarket. Terjadi sistem buka tutup: maksimal x orang masuk, dan setelah x orang itu tadi keluar, antrean berikutnya baru boleh masuk. Begitu diperbolehkan masuk, antrean langsung bergerak sangat cepat, sigap sekali. Dan secepat orang masuk, secepat itu pula seorang pelayan (entahlah apa namanya) menghentikan laju antrean sambil tersenyum, dan becanda kepada seorang paling depan yang dihentikan. Supaya tidak marah mungkin, atau memang budaya mereka suka becanda.

Scene: antrean mobil yang mengantre bensin, kemudian berganti menjadi seorang relawan yang mendistribusikan bahan makanan. Pokoknya mereka harus mengantar semua bahan baku yang telah disalurkan pemerintah dan bantuan sekitar kepada korban yang membutuhkan, begitulah moto relawan tersebut. Mereka bekerja sangat sigap dan tulus. Walaupun tidak ada kendaraan, mereka rela berjalan kaki selama 3 hingga 4 jam demi mengantarkan satu jeriken air plus bahan makanan lainnya yang disorong menggunakan troli.

Pokoknya, semua harus diantar.

Scene: kembali kepada kehidupan sang kakek. Kakek tersebut berjanji akan tetap bersemangat menjalani hidup, apapun yang terjadi. Serta berjanji akan tetap menunggu hingga jasad istrinya ditemukan. Atau istrinya tidak akan pernah masuk surga.