Tadi siang ada liputan tentang bihun berkaporit di Liputan 6 SCTV.

Siapa sih yang nggak kenal bihun? Makanan ini ada di mana-mana. Ada di tukang nasi goreng (mereka sedia bihun), bakso, juga ketoprak. Dulu bihun warnanya coklat. Tapi seiring waktu, bihun yang warnanya putih lebih disukai. Jelas, karena bihun putih lebih menarik dibanding coklat yang kesannya “kusam”. Tapi, bihun putih yang ada saat itu tidak putih-putih amat…. Sampai akhirnya digunakan kaporit.

Kaporit, atau kalsium hipoklorit sebenarnya adalah senyawa penjernih dan desinfektan air. Tapi kaporit kaya akan klor, yang merupakan zat pemutih. Klor biasanya digunakan di industri kertas untuk memutihbersihkan kertas.

Nah, para pekerja pembuat bihun di daerah-daerah menggunakan kaporit untuk memutihkan bihunnya. Padahal klor adalah zat yang sangat berbahaya. Bayangkan, kalau penggunaan utama klor adalah sebagai pemutih kertas, pemutih pakaian, dan desinfektan, bagaimana efeknya untuk manusia?

Di situs ini saya menemukan beberapa fakta tentang klor. Di Perang Dunia I, klor digunakan sebagai zat pencekik. Ternyata, klor sangat berpengaruh buruk kepada pernapasan manusia. Efek samping jika manusia terpapar klor antara lain merusak jaringan mata (jika terpapar langsung) dan merusak jaringan pernapasan dan pencernaan. Klor juga bisa menyebabkan bronkitis. Yang paling parah, klor juga dipakai sebagai pestisida (pembunuh hama). Jadi bayangkan jika manusia mengkonsumsi pestisida….

*****

Selain bihun berkaporit, saya juga pernah menonton episode di Reportase Investigasi tentang brownis yang menggunakan pewarna rambut.

Yoi, pewarna rambut yang warnanya hitam itu tuh. Penjual brownis menggunakan pewarna rambut karena harganya murah. Dibandingkan dengan pewarna makanan yang aman, pewarna rambut berkali-kali lipat lebih terjangkau.

Si pembuat brownis tahu kalau pewarna rambut berbahaya bagi kesehatan. “Tapi, supaya untungnya gede, ya kita pakai aja pewarna rambut,” ujarnya dengan polos. Belum berhenti di pewarna rambut, brownis ini menggunakan pemanis buatan. Memang nggak masuk akal sih kalau brownis seribuan yang ada di warung itu aman.

Ada juga tentang risoles yang menggunakan parasetamol. Katanya kalau pakai parasetamol, rasanya lebih enak. Juga pangsit siomay yang pakai sejenis formalin (ada namanya, namanya gaul gitu. Saya lupa). Lalu kerupuk putih seharga lima ratusan yang ada di warung-warung, juga pakai klor. Belum berhenti di sini, kerupuk berwarna-warni yang ada di pasaran menggunakan pewarna pakaian. Ada juga sambal bodong harga lima ratus per botol satu liter yang bahan-bahannya sudah busuk. Lalu gorengan yang digoreng bersama plastik supaya renyahnya lama.

Masih ada lagi ayam tiren yang disuntik. Lalu siomay yang dibuat dari ikan sapu-sapu yang hidupnya di tong sampah. Ya, saya serius, ikan sapu-sapu yang hidup di tong sampah. Juga tukang ketoprak yang bikin lontongnya pakai plastik pembungkus yang tidak aman di suhu tinggi. Ada juga kerang yang dijual di warteg: penuh dengan limbah logam berat, dan kotoran kerangnya juga tidak dicuci. Juga gorengan yang dibiarkan terpapar debu jalanan, dan minuman dingin yang menggunakan es batu air sungai.

Sedih deh kalo tahu makanan minuman yang terjangkau ternyata begini semua. Otomatis sudah tidak ada lagi makanan murah yang sehat dan higienis.

Sayangnya di televisi, hanya ada himbauan: “konsumen harus berhati-hati”. Bukan cuma pembawa acara yang bilang, tetapi juga pakar bicara begitu. Mereka tahu kalau ini berbahaya. Tapi tidak ada tindak lanjutnya.

Saya jadi bingung, ke mana perginya pemerintah? Rakyat tidak bisa bung, dibiarkan sendirian mencari yang mana yang aman. Pemerintah harus bergerak. Urusan pemerintah nggak cuma yang gede-gede seperti korupsi dan Hambalang. Yang begini juga masalah Indonesia.

Kalau dari rakyat jelata sampai kaya raya sudah terlatih membohongi sesama, mau sampai kapan kita begini terus?

About these ads