Dalam urusan pariwisata, Indonesia memiliki banyak sekali potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya adalah wilayah Suramadu. Sejak diresmikannya jembatan terpanjang di Indonesia ini, akses menuju berbagai obyek wisata di Madura seperti Pantai Saebus di Kangean, atau Vihara Avalokitesvara menjadi makin mudah. Pemerintah pun mulai bersemangat mempromosikan wisata ke Suramadu.

VIhara Avalokitesvara, Madura. Sumber foto: panoramio

Namun disayangkan promosi saja tidak cukup untuk menarik wisatawan. Terbukti wisatawan hanya terbatas datang menikmati megahnya jembatan Suramadu, atau makan bebek Suramadu.

Padahal ada banyak sekali potensi wisata yang bisa dikembangkan di wilayah Suramadu ini. Selain dua obyek yang disebutkan di atas, masih ada banyak lagi mulai dari Agrowisata hingga wisata ziarah makam.

Pertanyaannya, mengapa potensi ini tidak dapat dimaksimalkan? Di tulisan ini, saya beranggapan bahwa masyarakat sudah sangat luar biasa menggarap potensi wisata di wilayah Suramadu. Banyaknya hotel dan restoran yang ada di sekitar cukup menjadi bukti. Tetap berdirinya wisata-wisata makam juga salah satu bentuk keterlibatan warga.

Sekarang, masyarakat sudah menyediakan potensinya. Namun mereka tidak memiliki power untuk menarik wisatawan datang berbondong-bondong, lagi dan lagi. Sebab untuk mendatangkan wisatawan secara berbondong-bondong dan berulang kali, kita membutuhkan suatu sistem. Dan pihak yang memiliki power untuk menyentuh sistem adalah pemerintah.

Apa yang sesungguhnya dicari wisatawan?

Ada baiknya kita belajar dari negeri tetangga yang sangat sukses dalam menata sektor pariwisatanya. Dari yang terdekat: Singapura, kemudian jauh ke utara sedikit, ada Thailand.

Ilustrasi keluarga ber-backpacking ria. Sumber gambar: the-spunky-traveler.com

Mereka menata pariwisata sangat baik, karena menggunakan sudut pandang yang tepat: mereka menggunakan sudut pandang seorang wisatawan. Pemerintah memposisikan diri sebagai pelayan, dan melihatnya dari mata wisatawan. Pertanyaan-pertanyaan penting pun muncul: apa yang akan wisatawan cari ketika berwisata? Mengapa wisatawan datang? Apa yang wisatawan inginkan dari pengalamannya berwisata?

Pertama-tama, kita (pemerintah) perlu mengetahui terlebih dahulu latar belakang wisatawan yang ingin dituju: apakah kaum perlente; wisatawan mancanegara; kelas menengah; atau sekedar warga desa yang ingin berwisata. Kemudian, hendaknya pemerintah membuat klasifikasi tempat dan objek wisata untuk setiap segmen yang ada.

Misalnya, jika ingin menggaet kaum perlente datang ke Suramadu, tentu saja pemerintah harus terbuka terhadap investor untuk membuka hotel bintang lima. Kebutuhan kalangan ekonomi atas akan transportasi umum yang dapat diandalkan dan jalanan yang mulus juga harus disediakan. Jangan sampai angan-angan ingin menggaet wisatawan ekonomi atas, tapi wisatawan itu disuruh istirahat di hotel tanpa AC dan makan di warung tenda yang pengap.

Contoh paling nyata yang bisa kita lihat adalah di Singapura. Mereka sangat welcome terhadap seluruh kalangan masyarakat: buat kalangan superkaya bisa menginap di Marina Bay Sands dan makan di Fullerton; sementara untuk yang kantongnya pas-pasan, bisa menginap di hotel khusus backpacker dan makan di Hawker. Pemerintah sudah memfasilitasinya (bahkan hingga hawker alias warung kaki limanya!).

Intinya, kita harus melihat sesuatu berdasarkan mata penglihatan sang wisatawan. Kemudian, kita (pemerintah) sediakan itu. Jika sudut pandang ini sudah beres, kita bisa beralih lagi ke hal lain yang tidak kalah pentingnya: pengalaman.

Pemerintah berpandangan bahwa wisatawan datang ke suatu daerah wisata untuk menikmati suatu objek wisata. Kalau bisa, objek wisata itu diperbagus, dipermegah. Memang benar demikian halnya. Namun percuma megah kalau tidak berkesan. Ada hal lebih dari sekedar menikmati kemegahan yang diinginkan wisatawan: pengalaman berwisata yang berbeda.

Karapan sapi, salah satu ikon wisata di Madura. Ini sangat penting untuk diinformasikan dalam bank data, serta dibawakan sebagai salah satu pengalaman berwisata di Madura. Sumber foto: palingindonesia.com

Sesungguhnya mengapa wisatawan tidak datang ke suatu daerah wisata bukan karena tempat wisatanya murahan, bukan karena tempat wisatanya jelek, atau karena tempat wisatanya terlihat kampungan. Kalau memang begitu adanya, tidak mungkin hutan Afrika yang begitu biasa dan tidak modern sama sekali selalu dikunjungi wisatawan, bukan?

Sebab, wisatawan mendatangi suatu daerah karena ingin merasakan pengalaman yang berbeda. Orang kota datang ke desa karena ingin pergi dari suasana kota yang bikin sumuk. Orang Jakarta pergi ke Singapura karena ingin merasakan sensasi hidup di negeri modern. Orang kantoran pergi naik gunung karena ingin menikmati hal yang berbeda.

Tak heran iklan penyedia kartu kredit terbesar dunia, MasterCard, tagline-nya adalah priceless.

There is something money can’t buy, begitu kata MasterCard. Nah, sekarang saatnya pemerintah memfasilitasi wisatawan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang itu! Pengalaman!

Kini, pemerintah wajib hukumnya melibatkan kaum akademisi dan institusi riset demi meningkatkan kualitas wisata di Suramadu. Melalui riset dan pengembangan, dapat dirumuskan pengalaman apakah yang akan dibawakan kepada wisatawan. Tujuannya tentu saja supaya wisatawan ketagihan datang ke Suramadu.

Jadi, sesungguhnya segala objek wisata yang ada di Suramadu dan sekitarnya, mulai dari Jembatan Suramadu, bebek, wisata ziarah, hingga pantai, sudah sangat baik. Tinggal bagaimana kita menyajikan semua hal tersebut kepada wisatawan sehingga wisatawan merasakan pengalaman yang luar biasa karena telah berlibur di Suramadu!

Sekarang pertanyaan lanjutannya: bagaimana menghadirkan pengalaman tersebut kepada wisatawan?

Jawabannya: integrasi segala hal secara komprehensif.

Pengalaman terintegrasi

Ketika saya tiba di Bandara Changi, Singapura, dari atas kabin pesawat tidak ada hal yang luar biasa. Tetapi begitu keluar dari garbarata dan mencium wangi Bandara Changi… Pengalaman itu sungguh berharga, dan masih teringat di kepala saya–bahkan ketika saya menulis pos ini.

Bandara Changi, Singapura. Sumber foto: m88news.com

Hal-hal kecil seperti itu lah yang perlu diperhatikan untuk membawakan suatu pengalaman.

Kemudian, setelah mengambil bagasi, ada banyak selebaran yang dibagikan secara gratis mengenai info wisata di Singapura. Di booklet mini tersebut tertera banyak sekali informasi yang luar biasa: mulai dari rute bus; rute MRT; ongkos taksi; tempat wisata terdekat, lengkap dengan apa isinya dan situs apa yang perlu dikunjungi jika berminat mendatangi lokasi tersebut (dan bahkan cara menggapai tempat wisata tersebut); informasi restoran berbagai harga dan citarasa; hingga jadwal suatu pagelaran seni bulan itu di Esplanade, lengkap beserta harga tiketnya!

Informasi terintegrasi tersebut membuat wisatawan mengetahui apa saja hal-hal menarik yang ada di Singapura. Karena penyedianya adalah pemerintah Singapura, wisatawan tentu tak ragu, dong, untuk datang ke objek tersebut. Kalaupun belum sempat datang, wisatawan sudah mengetahui apa yang akan dikunjungi nanti ketika kembali lagi ke Singapura.

Hal remeh seperti ini di mata saya yang belum diperhatikan oleh pemerintah dalam mengelola wisata. Pemerintah hanya sibuk beriklan “Visit Indonesia”, “Ayo liburan ke Suramadu”, tetapi tidak membenahi inti-inti penyokong pengalaman berwisata yang luar biasa.

Alhasil, wisatawan hanya mengetahui objek wisata yang ingin didatangi berdasarkan info mulut ke mulut. Karena infonya tidak pasti juga, muncul keraguan pada hati wisatawan untuk datang: apakah benar sebagus itu? Mana buktinya? Bagaimana kalau aksesnya sulit? Bagaimana kalau tidak sesuai dengan harapan saya?

Terlebih lagi, jujur saja saya pribadi mengalami kesulitan menemukan bank data informasi tentang objek wisata yang kredibel, komprehensif, selalu ada, dan mudah dipahami. Khususnya untuk Suramadu ini.

Pemerintah perlu lebih aktif mendata objek-objek wisata, kemudian mendatanya dan menyajikannya dalam suatu booklet mini atau bank data di internet (catatan: penyajiannya harus menarik) supaya wisatawan menjadi yakin bahwa Suramadu adalah wilayah wisata tujuan mereka berikutnya.

Transportasi umum

Ada lagi hal penting yang seringkali dilupakan oleh pemerintah: transportasi umum. Sekarang, jika memposisikan diri sebagai wisatawan yang naik pesawat, atau naik kendaraan umum lainnya, tentu saja wisatawan tersebut tidak membawa kendaraan umum sendiri. Maka, transportasi umum is a must.

Iya kalau si wisatawan tersebut banyak uang sehingga bisa menyewa kendaraan pribadi, atau naik taksi ke mana-mana. Tapi tidak semuanya semampu itu.

Bahkan kawan saya dari luar negeri pernah bercerita bahwa mereka suka dengan obyek wisata di Indonesia. Tetapi sulitnya akses terhadap transportasi umum yang andal, menjadi keberatan mereka berwisata di Indonesia. Sebagai gambaran, saya pernah membaca buletin Taksi Blue Bird, dan mencantumkan tarif taksi dari Bandara Juanda ke Suramadu itu Rp200.000….. Duh, kalau saya jadi wisatawan, saya sih emoh datang ke Suramadu dengan ongkos semahal itu. Saya akan memilih naik kendaraan umum, tapi dengan syarat nyaman dan aman, serta tidak banyak ngetem.

SBS Transit, ikon transportasi umum di Singapura. Bolehlah kita mencontoh manajemen transportasi umum dari Singapura ini, demi wisata di Suramadu yang lebih baik. Sumber foto: publictransportsg.wordpress.com

Sekarang, selain fungsi utama sebagai pengangkut manusia, ada lagi fungsi lain transportasi umum sebagai ikon. Boleh lah kita menengok Thailand. Di sana, ada banyak tuk-tuk yang menjadi ikon transportasi di Thailand. Di Singapura, sistem bus dan MRT SBS Transit dan SMRT adalah ikon transportasi umum massal negeri singa. Atau, tak perlu jauh-jauh, Jogjakarta mengandalkan becak dan andong sebagai ikon transportasinya.

Di sinilah letak pemerintah membawa pengalaman berharga itu tadi: lewat transportasi umum. Pemerintah perlu menyediakan transportasi umum yang andal, nyaman, aman, tak banyak ngetem, dan tarifnya terjangkau serta adil. Tidak perlu lah bikin jalur khusus bus seperti di Jakarta. Sebab toh, di Singapura sistem busnya juga tidak pakai jalur khusus. Dan yang paling penting transportasi umum itu harus bisa membawa wisatawan ke tempat-tempat menarik yang ada di booklet wisata Suramadu.

Bayangkan jika ini bisa terwujud. Tentunya wisatawan akan merasa senang, sebab sepengalaman saya berwisata di Indonesia, belum ada wilayah yang menyajikan transportasi umum terpadu yang andal sehingga mampu memanjakan wisatawan. Jika ini bisa terwujud, bukan tidak mungkin wisatawan akan balik lagi!

Ada baiknya bus ikon Suramadu kepalanya berbentuk Barongan seperti ini. Sumber foto: intisari-online.com

Kemudian untuk memfasilitasi wisatawan berkendaraan pribadi, pemerintah juga perlu menyajikan transportasi sebagai ikon. Konsepnya bisa dibuat sesuai dengan letak geografis Suramadu. Misalnya, ada bus wisata yang didekorasi bentuk perahu karena didesain akan menyeberangi jembatan. Kemudian kepala busnya berbentuk Barongan, dan di dalamnya bus menyajikan informasi tentang kesenian-kesenian di Jawa Timur. Luar biasa!

Transportasi sebagai alat angkut manusia yang andal, plus transportasi sebagai ikon adalah kombinasi hebat.

Jalan kaki

Dari sebuah survey yang direproduksi di Majalah Tempo, pernah dikatakan bahwa turis yang berjalan kaki akan belanja hingga 5 kali lipat lebih banyak ketimbang yang naik kendaraan pribadi.

Dari data ini dapat dijadikan strategi tersendiri untuk menggaet wisatawan. Dibuatlah jalur pedestrian yang nyaman, teduh, dan asri sehingga wisatawan dapat berjalan kaki. Kemudian, di sekitar jalur pedestrian tersebut dibukalah toko-toko suvenir atau warung kuliner yang khas.

Tidak heran kalau Singapura sangat mengandalkan Orchard Road sebagai daerah wisatanya. Jogjakarta mengandalkan Malioboro sebagai lokasi tempat wisatawan berkumpul. Semuanya, konsepnya jalan kaki.

Jalan kaki, tidak hanya sehat, tetapi juga memberi pemasukan lebih kepada daerah.

Oleh-oleh

Salah satu pusat jajanan di Madura. Bolehlah kita ubah supaya menjadi terintegrasi dan luar biasa seperti Bugis di Singapura. Sumber gambar: wisatakuliner.com

Wisatawan sudah puas berjalan-jalan ke berbagai tempat wisata di Suramadu. Sudah puas melihat view dan berfoto di Suramadu, puas makan bebek, melihat-lihat museum dan tempat bersejarah, dan juga naik bus wisata. Sekarang, mereka ingin membawa kenang-kenangan dari Suramadu baik untuk diri sendiri maupun untuk sanak kerabat di tempatnya tinggal.

Bolehlah kita menengok Bugis di Singapura, sebagai pusat perbelanjaan oleh-oleh terintegrasi yang sangat besar dan luar biasa. Di sana, berbagai macam cinderamata dijual: mulai dari gantungan kunci harga satu dolar yang cepat rusak, kaos kualitas top, aneka coklat dan camilan yang enak, hingga patung Merlion, dijual di sana.

Atau di Jogjakarta, kita punya Jalan Malioboro. Berbagai macam suvenir, kaos, hingga makanan seperti Bakpia Pathuk dan Mie Godhog dijual di sana. Luar biasa!

Inilah yang perlu dikembangkan oleh pemerintah wilayah Suramadu: mengembangkan pusat perbelanjaan oleh-oleh terintegrasi. Nanti warga sekitar yang berminat untuk mengisi lapak akan dilatih supaya dapat menjajakan oleh-oleh yang berkualitas dan selalu update sehingga tidak ketinggalan jaman. Tentu akan menjadi daya tarik tersendiri!

Sistem

Inilah satu hal penting yang perlu dibangun pemerintah untuk membangun wisata yang andal: sistem yang membawakan pengalaman luar biasa. Itulah yang ditawarkan Singapura, Thailand, Jepang, dan bahkan Amerika Serikat dalam mempromosikan pariwisatanya.

Jembatan Suramadu. Sumber foto: panoramio.com

Mulai dari sistem transportasi (tiada angkutan umum yang tidak andal, jalan yang halus dan rata), sistem perhotelan yang mampu memfasilitasi yang kaya dan yang pas-pasan, objek wisata yang menjangkau seluruh kalangan dan dekat dengan wisatawan, hingga membangun pengalaman dalam berwisata sejak wisatawan masih berada di rumah, perlu diperhatikan dan digarap dengan baik. Jadi, bukan sekedar promosi kosong.

Jika sistem ini dapat dibangun, saya haqqul yakin wisata di Suramadu dapat berkembang pesat. Bahkan bukan hal mustahil jika menjadi tujuan wisata dunia. Dengan begini, kemajuan ekonomi dan sosial wilayah Suramadu pun akan ikut meningkat juga!

Memang bukan hal mudah untuk mewujudkan ini semua. Namun, seperti kata pepatah, nothing worth comes easy. Tak ada hal berharga yang datang dengan gampang.

Suramadu, bisa!

—-

Tulisan ini dibuat selain untuk mengeluarkan unek-unek saya tentang wisata di Indonesia yang memang masih sangat belum dijual secara maksimal, juga untuk mengikuti lomba menulis blog tentang wisata Suramadu.

Kalau di tofaninoff bloginova saya enggak pamitan, di sini saya mau pamitan.

Mulai hari ini, saya berhenti menulis di sini. Tak ada lagi tulisan dengan nama penulis tofaninoff. Alasannya: ingin lebih serius, ingin lebih terlihat “tulisannya dapat dipertanggungjawabkan”.

Image

Mulai hari ini, blog saya pindah ke harismustafa.com. Akan lebih banyak tulisan bukan opini di sana. Sebabnya karena postingan terakhir saya di sini: Blog standar enigma. Sebisa mungkin saya membuat tulisan yang jauh lebih bagus dan lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Plus, karena blognya pakai nama asli saya… siapa tahu saya bisa lebih terkenal, hehe :D

Salam!

Pembuka: saya suka sekali “menyiksa diri”. Waktu SMP, saya pernah ke Kutoarjo sendirian naik kereta tak ber-AC yang sesak dan (kala itu) masih banyak yang merokok di kabin. Waktu SMA, backpacking ke Bandung 3 hari 2 malam dengan bujet 110 ribu rupiah. Bahkan pernah naik gunung Gede dengan (tololnya) cuma bawa sarden 3 kaleng, roti 1 bungkus, tanpa beras dan juga kompor, plus senter yang baterainya tidak bisa dilepas. Untungnya saya bisa pulang lagi ke rumah dengan selamat.

Kemarin, kami ke Singapura dengan bujet hanya 175 dolar Singapura. Buat perbandingan, harga sarapan Nasi Lemak S$3,5 dolar. Harga sabun cuci muka Garnier yang di Indonesia cuma 15 ribuan, di Singapura S$11 (Rp110.000). Harga objek wisata rata-rata S$20. Jadi, S$175 itu sedikit banget.

Tentunya ada cara menyiasatinya. Mulai dari menginap di rumah kawan yang kuliah di Singapura, mempersiapkan perjalanan dari berbulan-bulan sebelumnya, hanya membeli oleh-oleh yang tidak umum dan tidak ada di Indonesia, serta tidak lapar mata adalah trik jitu.

Di depan National Museum of Singapore. Museum terambisius yang ada di Asia Tenggara.

Di depan National Museum of Singapore. Museum terambisius yang ada di Asia Tenggara.

Menggelandang bersama WNI yang sudah lama tinggal di Singapura itu priceless. Bisa mengunjungi tempat yang turis tidak tahu; cerita kehidupan Singapura yang takkan bisa dilihat dan didengar orang yang hanya singgah dalam hitungan hari; dan tidur di tempat Warga Negara Singapura tinggal merupakan sensasi yang berbeda.

Memenejemen perjalanan sejak masih di rumah itu seru. Mempertimbangkan rute perjalanan yang paling efisien dan dekat dengan tempat ibadah merupakan tantangan tersendiri. Beli oleh-oleh yang enggak lumrah juga lebih memuaskan ketimbang membeli gantungan kunci yang tak bisa bertahan lama.

Hasilnya, dari jalan-jalan singkat ini ada banyak judul tulisan yang bisa dibuat. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan warga Singapura, gaji dan kehidupan kerja di sana, kebiasaan turis Indonesia, Penguasa Angkutan Darat, hingga keselamatan kerja yang ada di Singapura.

Cepat atau lambat, akan saya tulis semua. Semoga bisa menjadi bahan tawaan dan juga pelajaran bagi kita semua!

Halo! Perkenalkan mata wayang di balik website ini, Jaka Haris Mustafa.

Biar blur, yang penting bahagia!

Biar blur, yang penting bahagia!

Saya sudah pernah menulis di dua blog: tofaninoff wordalana dan tofaninoff bloginova. Rasa dirasa ingin pindah ke domain sendiri, terbuatlah weblog yang satu ini.

Terdorong dengan beberapa weblog luar negeri seperti Ars Technica, Slate, dan blog dalam negeri seperti Blog misteri enigma yang notabene sangat berkualitas, weblog ini juga akan menawarkan tulisan yang menarik dan kredibel.

Jika di dua blog saya sebelumnya mengandung banyak opini, tidak demikian di sini. Weblog ini memiliki 5 kategori: #bahasa, #duit, #pendidikan, #sains, dan #sudutpandang (besar kemungkinan akan bertambah). Di 4 kategori pertama, saya hanya akan menulis tentang sesuatu. Seperti halnya reportase atau artikel pendek. Sementara tulisan yang berbau opini hanya terdapat di #sudutpandang.

Lukisan bapak seni rupa Indonesia S. Soedjojono yang menjadi gambar fitur (featured image) tulisan ini juga salah satu hal baru yang tidak ada di blog sebelumnya. Mulai dari sekarang, setiap tulisan akan saya beri gambar fitur berupa lukisan atau seni rupa lainnya. Seni yang dipajang tidak nyambung dengan isi tulisan? Enggak masalah. Karena saya rasa kita perlu juga berkenalan dengan karya seni yang tidak biasa, yang tidak ada di televisi.

Seiring dengan aktifnya weblog ini, dua blog pertama saya tidak akan saya perbarui lagi. Capek dan repot, lho, mengurus banyak blog. Lebih baik di sini saja. Jika pembaca menemukan tulisan menarik di dua blog saya yang terdahulu, semoga pembaca berkenan menyebarkannya ke kolega dan kerabat :)

Di sela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa dan juga pengasuh di Taman Baca Bulian, saya meminta pembaca untuk maklum jika saya tidak dapat memperbaharui weblog ini secara konstan. Oh ya, kalau pembaca ingin memberikan donasi buat saya (buat beli buku baru, menambah kapasitas hosting, atau sekedar beli es krim) diperbolehkan sekali :P

Salam!

PS: Lukisan oleh S. Soedjojono, judul Pertempuran Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen, dibuat tahun 1973 dengan media cat minyak di atas kanvas.

Siapa tahu situs Enigma? Dulu banget, teman saya Rizky memperkenalkan situs itu. Katanya, isinya bagus banget. Ternyata memang begitu! Entrinya ditulis dengan apik, data dan analisisnya juga sangat mendalam. Bayangkan, untuk blog misteri yang notabene jarang, dan sulit untuk membuktikan suatu misteri itu benar atau hanya sekedar hoax, Enigma mencari faktanya hingga saaaaangat jauh, lebih jauh dari Sabang sampai Merauke. Kalau belum tahu situsnya, ayo dibuka dan dibaca-baca!!

Nah, sejak saya kenal blognya Enigma, saya jadi punya standar Enigma: setiap entri tulisan harus mendalam dan valid.

Tapi ternyata menulis yang seperti itu sangat sulit. Untuk proses penulisan satu entri saja saya bisa menghabiskan 10 jam. Bahkan ada satu entri yang menghabiskan waktu 24 jam penulisan. Untuk saya yang notabene lagi penuh jadwal kuliah, dan mata kuliahnya mulai seram-seram, menulis selama itu hampir enggak mungkin. (Dari mana saya tahu itu? Microsoft Word 2013 menyediakan fitur ringkasan, yang membantu kita mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu dokumen)

Selain itu, sepertinya pembaca entri yang mendalam seperti itu juga enggak sebanyak yang singkat-singkat ya :)

Nah, akhirnya belakangan ini saya hanya pos entri yang pendek-pendek. Agak gatal sih, mengingat harus turun standar. Tapi setelah dipikir, nampaknya lebih baik begitu ketimbang blog saya kosong enggak ada isinya.

Anyway, mungkin teman-teman yang baca blog ini bisa ikutan jadi member “Blog standar Enigma” dan bikin kopdar, haha :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,725 other followers