“Do you want to sell sugared water for the rest of your life? Or do you want to come with me and change the world?” -Steve Jobs, ketika menawarkan posisi CEO Apple kepada John Sculley, CEO Pepsi

Steve Jobs
Kutipan epik yang terdapat di biografi Steve Jobs tersebut efektif membuat saya terpingkal. Tetapi setelah diresapi, kalimat satire tersebut justru menonjok saya habis-habisan. Apa yang sejauh ini telah saya lakukan? Menjual air bergula saja belum pernah.
Mengutip Jobs, salah satu cara mengubah dunia (dan mengubah Indonesia) adalah dengan melakukan terobosan dan inovasi. Mendirikan usaha yang mampu bersaing dan bernilai tinggi adalah salah satunya. Berwirausaha bisa menambah pendapatan negara, memfokuskan arus uang di negeri sendiri, menambah kualitas hidup masyarakat, menyerap tenaga kerja terdidik, dan masih banyak lagi.
Sedihnya jumlah wirausahawan di Indonesia masih kurang. Berita ini sering sekali kita lihat di surat kabar, majalah, ataupun media daring. Dari 240-an juta penduduk Indonesia, yang berminat untuk menjadi seorang wirausahawan baru 3,7 juta orang alias 1,56%-nya. Angka ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan negara lain. Jumlah wirausahawan di Malaysia saja mencapai 4% dari total penduduknya. Singapura lebih hebat lagi, mencapai 7,1%. Negara adidaya Amerika Serikat jangan ditanya: 12,3% warga Amerika dewasa pernah terlibat dalam kewirausahaan. Efek sampingnya, negara kita baru bisa mengonsumsi, belum mampu memproduksi.
Untungnya berita tersebut tidak dianggap isapan jempol. Menurut survey SWA pada Maret 2013, minat kaum muda dan mahasiswa untuk membuka usaha semakin besar.
Bangga dong melihat tumbuhnya tren berwirausaha di kalangan muda.
Read the rest of this entry »