Pertanyaan

Sejak kelas 8 SMP, saya mulai membiasakan diri menulis setiap pertanyaan yang muncul di benak saya: apapun itu, mulai dari hal nggak jelas sampai yang nggak akan pernah jelas.

Catatan itu berserakan di mana-mana. Mulai dari bon yang disimpan di dompet, di twitter yang saya bookmark, sampai catatan di handphone.

Sayangnya karena saya suka teledor, catatan pertanyaan-pertanyaan itu suka lenyap begitu saja.

Misalnya, waktu ganti handphone, dan handphone bangkainya nggak disimpan baik-baik. Akhirnya handphonenya nggak bisa nyala dan pertanyaannya hilang. Atau, waktu itu karena handphone tiba-tiba hang, dan bootloop. Akhirnya harus di-flash ulang (yang pakai Android mungkin sudah familiar). Pertanyaan yang sudah terkumpul sekian tahun hilang begitu saja.

Padahal kalau dijumlah kira-kira ada +-400 pertanyaan: dan baru 10%nya yang sudah terjawab :(

Cloud computing pun nggak membantu menyimpan pertanyaan-pertanyaan saya. Soalnya cloud computing biasanya disediakan suatu perusahaan, di mana saya harus login ke penyedia layanan cloud. Nah harus login ke banyak layanan ini bikin saya kesal. Saya lebih suka punya satu akun Google yang menyimpan mulai dari kalender sampai kontak handphone. Sayangnya Google tidak berminat bikin komputasi awan untuk notes dan sebagainya.

Well, pertanyaannya sangat-sangat nggak penting, sih. Tapi ya saya hobi aja nanya-nanya walaupun pertanyaannya nggak bagus. Apalagi kalau bisa menjawab sendiri, waduh, bahagia rasanya.

*****

Btw kalau dilihat dari statistik, saya baru sadar kalau satu tahun terakhir hampir sama sekali nggak mengajukan pertanyaan. Entahlah apa penyebabnya: karena sekolah yang cenderung “diem lo sini gue jelasin”, karena faktor teman, sibuk jualan, atau apalah nggak ngerti lah ya.

Yang jelas (bagi saya) rasanya hidup tanpa pertanyaan itu nggak hidup.

Ngebongkar Kindle

Tadi siang waktu lagi baca, tiba-tiba kepikiran, “Kalo Kindle gue rusak, benerinnya gimana ya?”

Akhirnya buka laptop, cari-cari info. Ternyata satu-satunya servis pusat cuma di Amazon.com, Amerika. Karena nggak mungkin kalau saya kirim Kindle bolak-balik US-Indonesia, maka muncul niat iseng buat cari website yang sudah pernah ngebongkar Kindle.

Btw, Kindle, seperti gadget jaman sekarang tutup belakangnya nggak bisa dibuka sendiri secara normal. Contoh gadget lain yang tutup belakangnya nggak bisa dibuka antara lain iPad, keluarga Samsung Galaxy Tab, dan HTC One X. Bagi saya, tutup belakang nggak bisa dibuka itu njelehi. Nggak bisa oprek sendiri, nggak bisa lihat-lihat isi dalamnya, dan yang jelas bikin penasaran.

Akhirnya ketemu di ifixit. Yang nongol di hasil pencarian pertama adalah Kindle 2 yang notabene sudah menjadi fosil. Kindle Touch yang saya pakai ada di bawah-bawah. Nahlo, padahal Kindle Touch kan lebih baru daripada Kindle 2?

Jelas aja nggak nongol di urutan pertama, soalnya belum ada yang berani bongkar Kindle Touch :(

Perhatian jatuh ke Kindle 4, saudara seibu Kindle Touch yang belum berlayar sentuh. Eh, ada video “penganiayaan Kindle”!

Ini dia.

Serem cuy ngeliatin Kindle dibongkar kayak gitu. Pas nonton, saya cuma bisa meringis doang.

Kayaknya sih isi Kindle Touch sama seperti Kindle 4. Lihat nanti deh. Kalau saya sudah dapat pengganti Touch yang saya pakai sekarang, ntar saya coba bongkar :P

Jamiroquai, True Badass

Pas makan siang sekeluarga, ibu cerita kalau penyanyi 80′an seperti Titi DJ dan Ruth Sahanaya rutin lari keliling GBK kira-kira 4 kali putaran untuk menjaga kualitas suaranya. Wow!

Dan gue jadi inget Jamiroquai.

Gue kenal Jamiroquai sekitar 4 tahun yang lalu. Simpel, karena lagunya bagus. Tapi belakangan ini–seiring dengan meningkatnya kecepatan internet–gue baru sadar apa yang bikin Jamiroquai itu true badass:

Performa saat live maupun di studio, sama bagusnya!

Sebagai contoh, ada music video dari Phoenix, grup band asal Perancis.

Video di atas versi studio-nya. Dan ini versi konsernya.

Ngebanting banget deh. Vokal si pemainnya kayak kehabisan nafas, dan nggak begitu bagus. Atau, coba lagi bandingkan Train dengan Hey Soul Sisternya. Berikut adalah versi studio dengan performa live-nya.

Atau Sting, penyanyi yang sama-sama berdarah Inggris seperti Jay Kay. Saat performa live, groove-nya kurang nendang.

Atau Level 42, yang sama-sama dari Inggris juga. Tapi saya rada maklum kalau performanya berkurang, soalnya Level 42 memang sudah tua banget.

Tapi kalau Jamiroquai… Gila, baik live maupun studio, suaranya nggak berubah!

Gila gila. Padahal dulu Jay Kay (penggagas Jamiroquai) sempat ditolak saat audisi vokalis Brand New Heavies. Padahal suaranya bagus, performanya nggak turun-turun!

Mungkin Jay Kay juga rajin olahraga berat.

Sains Itu Nggak Sexy

-Updated-

Seminggu yang lalu Alhamdulillah saya dapat honor edit buku, jadi bisa jalan-jalan ke toko buku. Curhat dikit boleh lah ya. Saya datangi Toko Gunung Agung karena di situ biasanya banyak koleksi buku bagus yang nggak ada di Gramedia.

Pergi ke bagian majalah, saya lihat ada majalah “Sains Indonesia”. Wow, ternyata Indonesia punya juga majalah yang membahas sains. Saya berharap bakal bertemu dengan artikel seperti “Peranan Teknologi Kuantum bagi Masa Depan Superduperkomputer” atau “Ilmuwan Indonesia Berhasil Membuat Pesawat Berkecepatan Cahaya” atau “Belajar Sains, Puluhan Nelayan Tertimpa Ikan”.

Alih-alih saya bertemu dengan artikel, “Budidaya Sawit Semakin Meyakinkan” dan “Peneliti Berhasil Membuat Kertas yang Dibuat dari Serat Pelepah Pisang”. Yah. Kecewa deh.

Sayang karena uang sudah dijatah untuk beli majalah Time, jadinya saya nggak beli majalah sains fenomenal ini. Saya juga gagal mengabadikan cover-nya karena baterai hp lemah :’(

Nah, benar saja kata Bu Hera Sudoyo di TEDxJakarta 1 April kemarin, sains di mata masyarakat Indonesia itu nggak sexy. Sebab di mata masyarakat, sains di Indonesia masih seputar pertanian dan peternakan dengan masa depan penelitian yang suram. Kenyataan bekerja sebagai peneliti harus berpakaian putih-putih dengan kacamata lab dan gaji yang rendah juga merupakan salah satu faktor yang bikin sains nggak sexy.

Padahal sains nggak seperti itu. Ada kisah peneliti Indonesia yang meneliti nyamuk atau apalah itu (lupa, soalnya artikelnya ada di Kompas sekitar 6 tahun silam) sejak 1990an sampai 2006 dengan sangat getol. Nggak tahu kelanjutan beliau gimana.

Ada juga kisah peneliti biologi molekuler Indonesia yang meneliti kasus kriminalitas seperti di film CSI. Tapi yang seperti itu justru jarang diangkat ke ranah publik.

Kalau saya baca majalah-majalah sains luar negeri, rasanya miris banget lho. Artikelnya keren-keren, nggak ada kesan ketinggalan jaman sedikitpun. Wajar sih, soalnya di sana, khususnya Amerika dan negara-negara Uni Eropa, penelitian didukung dengan dana jutaan USD. Fasilitas mendukung, buku dan literatur lengkap. Nggak heran kalau anak SMA di Amerika sana sudah berhasil membuat alat pengkontrol diabetes tanpa perlu menusukkan jarum suntik ke tubuh. Wow banget. (Science News 11 Februari 2012)

Atau sebenarnya nggak perlu muluk-muluk ke sana, artikel humor seperti ini juga termasuk ke pembahasan sains. Keren kan.