Banyak sekali ujaran yang kurang lebih isinya “jangan belajar dan baca melulu, sekali-kali nongkrong lah di luar. Bersosialisasi.”

Buat orang yang hobinya belajar dan berdiam diri menambah pengetahuan dan keterampilan hidup, nasihat itu nampaknya cuma angin lalu yang enggak masuk akal sama sekali. Untuk apa tho buang-buang waktu nongkrong di luar, ngobrol sana-sini? Mendingan diam di rumah, belajar, bekerja, atau baca. Energinya tidak terbuang sia-sia karena digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Ternyata anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Alkisah, pada zaman kebangkitan Eropa, muncullah banyak sekolah formal. Kalau sudah pernah nonton film Frankenstein, universitas di masa lalu itu lucu sekali. Sebabnya ada satu dosen di bawah yang berkoar-koar, kemudian mahasiswa yang “menonton” dari berbagai sisi menanggapi secara serius dan bahkan sampai berbantah-bantahan. Berbeda sekali dengan kuliah di masa kini, yang didominasi oleh dosen yang berada di depan menjelaskan sepercik isi bab buku, kemudian mahasiswa sesekali mencatat dan bertanya.

Di samping munculnya sekolah-sekolah, orang Eropa mulai menemukan kopi. Minuman hitam pekat yang sanggup bikin orang terjaga hingga berjam-jam menjadi primadona. Muncullah kedai kopi di berbagai wilayah Eropa. Mulai dari Inggris Raya hingga Perancis.

Banyak orang nongkrong di kedai kopi pada malam hari. Banyak orang terjaga hingga pagi.

Berbeda dengan alehouse yang jualan bir, kedai kopi tidak menyajikan minuman beralkohol yang bikin mabuk. Kopi, sebaliknya, membuat orang terjaga dan tetap waspada serta rasional.

Akibatnya obrolan yang dihasilkan pun cenderung lebih santun dan berisi. Tidak seperti di kedai bir yang obrolannya ngalor ngidul karena pelanggannya kehilangan akal.

Nah, dari situlah peranan kedai kopi muncul. Karena obrolan yang tercipta di kedai kopi lebih berisi, terperciklah ide-ide baru yang lahir dari kedai kopi.

Peranan kedai kopi dari semula hanya jualan kopi, sedikit demi sedikit “beralih fungsi” menjadi pelengkap sekolah formal yang ada. Para kaum terpelajar, pemikir, dan juga borjuis berkerumun di kedai kopi. Mereka membicarakan sesuatu. Membicarakan ide.

Pelan-pelan kedai kopi tumbuh menjadi tempat belajar sungguhan. Di Inggris Raya, kedai kopi disebut penny university. Sebab setiap orang dapat masuk ke kedai kopi dengan membayar satu penny. Kemudian di dalam, ia dapat berdiskusi, membaca buletin, atau sekedar mendengarkan orang yang asyik berdebat.

Di Inggris Raya pula kedai kopi menjadi pelopor lahirnya berita. Budaya menyalurkan berita dan tulis menulis berita muncul dari kedai kopi. Berita yang disampaikan tidak hanya gosip dan ide lisan dari mulut-ke-mulut, tetapi juga manuskrip, bahkan berita tertulis yang dicetak di pamflet.

Tak dinyana, dari tempat tongkrongan itu muncullah tokoh-tokoh pemikir hebat dunia. Antara lain Voltaire, Diderot, Montesquieu, hingga Sartre.

Pemikir-pemikir besar Eropa (antara lain Voltaire yang sedang mengangkat tangan) sedang nongkrong di kedai kopi

Salah satu kedai kopi yang menjadi tempat tongkrongan pemikir besar ada yang masih berdiri. Antara lain Café Procope di Perancis.

Café Procope

Café Procope pun masih menyimpan dan memajang meja Voltaire. Meja yang digunakan Voltaire ketika nongkrong di kedai kopi.

Meja Voltaire

Buka saja jendelanya!

Dulu saya pernah menulis tentang kekayaan (bukan sekedar kekayaan harta, tapi juga imateri). Tipsnya supaya merasa kaya adalah buka semua jendela yang ada di rumah. Rasakan udara yang berembus kencang.

Pada prinsipnya, nongkrong juga merupakan salah satu perwujudan membuka jendela. Apalah artinya tabungan kecerdasan kita kalau tidak “dibuang”? Nanti yang ada keterampilan dan kecerdasan itu akan usang dan bau tengik seperti ruangan yang pengap karena jendelanya tidak pernah dibuka.

Dengan nongkrong dan ngobrol yang produktif seperti pemikir hebat tersebut, diharapkan akan muncul banyak hal di luar dugaan. Antara lain, seringkali seseorang merasa teramat sangat yakin dengan kebenaran dan prinsip hidup yang dipegangnya. Tetapi ketika diutarakan dan diobrolkan dengan orang lain, barulah ketahuan kalau prinsip yang dipegangnya itu masih bagaikan kerupuk: banyak bolong-bolongnya yang harus ditambal supaya solid.

Atau kadangkala kita merasa bahwa teori atau keterampilan yang kita miliki adalah yang terbaik. Ketika didiskusikan dengan orang lain (dengan kepala terbuka, tentu) akan diketahuilah mana-mana keterampilan tersebut yang masih kurang dan harus dikembangkan.

Hal-hal seperti inilah yang sangat penting.

Ngobrol yang bagaimana?

Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul adalah bagaimana bisa ngobrol membawa produktivitas dan peningkatan kualitas hidup?

Jawabannya, bisa.

Pertama, obrolkanlah ide. Bukan membicarakan orang lain.

Ujaran Eleanor Roosevelt yang sangat berguna

Sebab hanya orang kecillah yang membicarakan orang lain. Tokoh besar, membicarakan ide.

Kedua, memperluas pergaulan. Carilah kawan yang suka membicarakan ide, bukan yang hobinya ngegosipin orang. Kalau sudah, cobalah bergaul tidak hanya dengan yang satu pemikiran, tetapi juga yang berseberangan.

Ketiga, dari obrolan tersebut, melakukan sesuatu. Entah itu menulis buku, membuat pergerakan, atau mendirikan sesuatu.

Bahkan kalaupun tidak ingin melakukan apa-apa, belum tentu hasil tongkrongan tersebut tidak bermanfaat. Bisa jadi orang lain yang mungkin tidak kita kenal, mencuri dengar, kemudian terpikirkan, dan mungkin terinspirasi sehingga tergerak untuk mewujudkannya menjadi nyata.

Jadi, ayo kita nongkrong!

*****

Gambar fitur: Café Au Charbonnage, Vincent van Gogh, 1878

Sumber-sumber:

The Rise of The Public in Enlightenment Europe oleh James van Horn Melton. Diterbitkan tahun 2001 oleh Cambridge University Press

Artikel-artikel di Wikipedia seputar kedai kopi; Age of Enlightenment

Artikel-artikel di http://philosophybasics.com

Gambar-gambar dari Wikipedia dan berbagai sumber. Cukup klik gambar, itulah tautan asli gambar tersebut.

Terima kasih kepada bapak saya yang sudah bercerita tentang Voltaire yang nongkrong di kedai kopi.

Belakangan ini di media sosial banyak kabar simpang siur mengenai “campur tangan pihak asing”. Ketimbang mengurusi hal yang terlalu spekulatif dan tidak bisa dibuktikan secara empiris, lebih baik kita fokus ke yang memang nyata-nyata ada.

Jadi begini.

Dua bulan terakhir Taman Baca Bulian rajin “mengimpor” warga negara Jepang. Tujuan utama TBB adalah untuk mengenalkan dunia internasional ke anak-anak pemustaka. Sementara tujuan utama kakak-kakak Jepang adalah untuk mengisi waktu luang. Plus, sebagai sarana pengabdian masyarakat dan balas budi.

Kiri ke kanan: adik saya Amel, Akia, Kazuyo

Ketika pemustaka sudah pulang semua, kami selalu duduk melingkar dan ngobrol. Di kesempatan satu bulan lalu, saya tanya seputar etos kerja keras orang Jepang. Sebab rumor yang saya dengar, kerja kerasnya orang Jepang gila-gilaan. Hal itu mereka amini. Ujarnya, orang Jepang memang rame ing gawe. Tidak seperti warga Indonesia yang terlalu santai. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Hari ini, kakak-kakak Jepang itu datang lagi ke Bulian. Saya bertanya ke dua orang Jepang yang “baru”. Di Indonesia ambil kuliah apa? Sastra Indonesia, jawabnya. Ditanya kenapa, katanya karena tertarik dengan budaya Indonesia….

Kawan saya Ai yang orangnya super-iseng nyeletuk, “Hahaha bohong! Bohong! Lu sekolah di sini karena pasar Indonesia yang menarik, kan!”

Kazuyo yang di Jepang memang mengambil major ekonomi menyangkal. Dia benar-benar tertarik dengan budaya Indonesia. Ai enggak mau kalah, “Huaha tapi lo emang mau kerja di sini, kan?”

Kali ini Kazuyo enggak menyangkal. Dia sangat setuju. Mengangguk-angguk serius. Dia memang belajar sastra Indonesia karena tertarik bekerja di Indonesia. Akia, orang Jepang yang satunya malah lebih gila lagi: sepulang dari Jepang nanti ingin mendirikan perusahaan di Indonesia.

Taka yang sudah dua kali bertandang ke Bulian turut mengamini. Kazu yang sekarang sudah di Jepang mungkin juga akan membuka usaha di Indonesia.

Pola yang ditangkap: anak muda Jepang ini belajar ilmunya masing-masing di Jepang. Ada yang belajar hukum, ekonomi, bisnis, dan sebagainya. Kemudian, mereka exchange selama satu tahun di Indonesia. Tujuannya untuk belajar bahasa Indonesia, budaya Indonesia, dan tidak menutup kemungkinan untuk mempelajari kebiasaan dan tingkah laku orang Indonesia.

Ketika program pertukaran selesai, mereka pulang ke Jepang untuk menyelesaikan studi. Lalu ketika sudah siap, mereka merantau ke Indonesia untuk bekerja, atau bahkan membuka usaha.

Jadi, ini yang ada di depan mata, yang jelas-jelas menjadi “ancaman” (baca: saingan berat) bagi diri kita pribadi.

——

Gambar fitur: French revolution, pelukis tidak diketahui

“Fan, Rabu besok jam 9 ikut ini, ya!” ujar Yassi (kawan) sambil nyodorin selebaran.

Mengamati lama…. “Hah. BOENJAMIN? ENGGAK MUNGKIN!”

“Dia udah konfirmasi, kok! Malah ruangannya yang masih tentatif hahahaha.”

“Enggak percaya, enggak percayaaa….” ujar saya enteng, ogah berekspektasi lebih karena ogah kecewa.

Kemudian, hari Rabu (14/5) tiba. Saya sedang di dalam kelas. Telepon berbunyi. Yassi.

“Fan, Pak Boen udah datang! Udah mulai. Buruan ke sini!”

Hah? Acara jam 9, jam 9 Pak Boen sudah datang? Demi apa?

Tanpa pikir panjang, tanpa bawa apapun, langsung ngibrit keluar kelas dan lari ke Ruang Chevron-Texaco di Dekanat. Mungkin teman di kelas cuma bengong. Kesambet apa makhluk satu ini?

*****

Kira-kira 4 tahun lalu, produk-produk buatan Kalbe makin terlihat berkelas. Kalbe juga mulai ganti logo. Iklannya tambah banyak. Saya penasaran dengan perusahaan ini, dan cari sana-sini. Oh, ternyata perusahaan Indonesia. Oh, ternyata pendirinya sudah kakek-kakek, namanya Boenjamin Setiawan. Oh oh dan oh terus terucap hingga tahu kalau si pendiri bergelar doktor.

Jarang sekali pengusaha Indonesia (yang sudah berumur pula) yang mengantongi gelar doktor. Hingga akhirnya momen takjub terbesar ketika tahu nama almamaternya: University of California, Berkeley. Sekedar info, kampus yang satu ini sampai menyediakan tempat parkir khusus penerima hadiah Nobel gara-gara saking banyaknya penerima Nobel yang terafiliasi dengan UC Berkeley.

Gila, pasti Eyang Boen jenius banget.

Saya yang semula enggak pernah melipir ke bagian majalah bisnis, mulai tengok-tengok seksi majalah bisnis. Kali-kali ada artikel tentang Dr. Boen.  sekolah saya ngubrak-ngabrik toko majalah bekas di Stasiun Tebet (sekarang tokonya sudah tiada, pedagangnya pun entah pergi ke mana). Ketemu! Majalah SWA edisi Oktober 2011, temanya Grandpa & Grandma Jagoan Bisnis. Kebetulan karena saya CS-an sama si penjual, dapat harga murah meriah: 3 ribu rupiah.

Beberapa koleksi majalah yang memuat Dr. Boen

Dari majalah itu saya dapat banyak hal. Pertama, ternyata Dr. Boen masih segar bugar. Beliau rutin olahraga minimal 3 kali sepekan. Olahraganya enggak main-main: berjalan kaki atau berlari dengan treadmil hingga membakar 600 kalori. Plus, di usianya yang sudah senja, beliau masih sanggup sit up 135 kali dan push up 35 kali.

Kedua, beliau juga masih rajin riset. Hingga saya menulis tulisan ini, jurnal tertanggal 2014 ini adalah karya terbarunya. Ranah risetnya beliau adalah sel punca (stem cell). Di SWA, Forbes, Intisari, bahkan Kompas, Dr. Boen selalu menekankan betapa pentingnya riset. Selama 4 tahun berjalan, dana riset Kalbe meningkat terus, mulai dari 80 milyar, 100 milyar, 120 milyar, dan kemarin beliau bilang dana riset Kalbe saat ini sebesar 180 milyar rupiah.

Meski terdengar besar, Dr. Boen mengakui angka tersebut masih tergolong kecil.  Kecil secara persentase (hanya 2% dari penghasilan), maupun jika dibandingkan dengan perusahaan farmasi lain di luar negeri. Perusahaan farmasi sekelas Roche, Novartis, dan Merck bahkan mengalokasikan hingga 17% penghasilannya untuk riset. Besar duitnya? Enggak main-main: mencapai 9,2 milyar dolar AS alias 105 trilyun rupiah!

Tapi Dr. Boen optimis angka tersebut bisa naik terus. Karena kalau penelitian kita maju, bangsa Indonesia akan maju pula.

Bicara Indonesia harus maju, ini poin ketiga. Dari tulisan-tulisan di berbagai majalah dan wawancara di televisi, beliau sangat-sangat ingin bangsa Indonesia maju. Riset, menurutnya adalah gerbang menuju kemajuan Indonesia. Tak hanya itu: pengembangan SDM dan pendidikan.

Pertama saya tahu beliau lulusan universitas top, saya tahu kalau pengusaha yang satu ini bukan orang main-main. Melihat pola pikirnya dia yang menomorsatukan inovasi, terlihat juga bahwa dia orang yang dinamis. Melihat dia ingin orang Indonesia pintar demi kemajuan bangsa Indonesia, INILAH SEORANG NEGARAWAN.

Dalam rangka Imlek 2013 silam, Metro TV menyiarkan Economic Challenges spesial edisi Imlek yang bertemakan Nasionalisme Pengusaha Tionghoa Indonesia. Dr. Boen yang kebetulan seorang Tionghoa turut serta sebagai narasumber di sini. Selain Dr. Boen, ada juga pendiri Sido Muncul Irwan Hidayat, serta dua lagi yang saya lupa. Kalau tidak salah ada pengusaha tembakau dan juga batu bara.

Ketika tiga narasumber lainnya kebanyakan bicara bisnis yang baik supaya ekonomi Indonesia membaik, Dr. Boen lain dari yang lain. Dia menekankan pentingnya SDM, SDM, SDM, SDM. “Kuncinya itu SDM! Kalau sumber daya manusia kita maju, Indonesia pasti maju! Kita terlalu bergantung dengan SDA! Makanya pendidikan Indonesia seharusnya bagus! Apalah artinya 20% anggaran saat ini tetapi keluarannya tidak bagus!” Ujarnya meletup-letup dengan logat Semarangan yang unik bikin kangen :)

Seketika itu pula…. Gila. Tidak terbantahkan lagi. Beliau memang keren sekali.

Sejak itu saya makin cinta dengan simbah pendiri Kalbe Farma ini. Ingin sekali bertemu, setidaknya melihat sosoknya dengan mata kepala sendiri.

Eh ternyata, beliau datang ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

*****

Di  seminar kemarin, Pak Boen banyak bicara tentang pentingnya kerja sama antara Akademisi, Bisnis, dan Goverment (ABG). Jika penelitian dari akademisi bersifat praktis, maka orang bisnis akan menyukainya dan mengaplikasikannya. Terlebih jika government mendukung, pasti iklim penelitian dan bisnis akan lebih berkembang. Pada akhirnya masyarakat akan sejahtera dan kualitas hidupnya meningkat.

Selain itu juga masalah mimpi dan persistensi. Beliau menekankan pentingnya anak muda untuk punya mimpi. Tak hanya itu, kita harus persisten dan konsisten dalam menggapai mimpi tersebut. Jangan mudah goyah, jangan terlalu bias.

Rekaman lengkapnya bisa didengarkan di sini.

*****

Pada akhir acara, dibuka sesi tanya jawab. Saya bertanya mengenai pentingnya penelitian dasar (basic research) di Indonesia; serta mengapa beliau masih segar bugar hingga saat ini.

Untuk pertanyaan pertama, saya ingin tahu cara pandang beliau seperti apa. Pertanyaan kedua, sebenarnya saya sudah tahu jawabannya (ada di beberapa majalah yang saya koleksi :P). Tapi karena sejak awal beliau tidak menekankan hal itu, ya saya tanyakan saja supaya teman-teman peserta seminar tahu.

Ujarnya, penelitian di Indonesia masih lebih baik fokus ke yang praktis. Sebabnya karena dana penelitian kita masih sedikit. Hasil penelitian itu nantinya dibisniskan supaya uangnya berkembang, dan setelah lebih stabil dan mandiri, barulah merambah ke penelitian dasar yang nggilani. Menurutnya, penelitian dasar itu manfaatnya memang besar sekali. Tapi kita nanti sajalah.

Untuk pertanyaan kedua, rahasianya adalah dengan 8B: Buah, Bekerja, Belajar, Beristirahat, Berolahraga, Bersyukur, dan Bergembira!

*****

Selepas acara ada sesi foto bersama. Kebetulan karena saya penanya pertama (saking semangatnya men), saya dapat buku gratis. Setelah foto, saya yang di dekat Pak Boen, diajak ngobrol. Dheg.

Dr. Boen: Siapa namamu tadi?

Saya: Jaka, Pak

Dr. Boen: Hah, siapa?

Saya: Jaka, Pak. (baru menyadari kalau saya bicara dengan orang yang sudah sangat sepuh)

Dr. Boen: Wah, hebat, hebat… (menepuk-nepuk punggung saya)

Pembicaraan pun berlanjut. Dr. Boen ini orang luar biasa. Saya yang cuma butiran debu dan bukan siapa-siapa diajak bicara.

Akhirnya kami pun foto bersama.

Bersama Dr. Boenjamin Setiawan

——-

PS: Seharusnya tulisan ini sudah dipos sejak Mei silam. Tetapi saya kelupaan…. Jadi ya sudahlah, ketimbang tidak dipos sama sekali :P

Gambar fitur: Archaic Idol oleh Mark Rothko

Beberapa hari terakhir agenda saya cukup aneh: membereskan folder di laptop! Soalnya isi file dan folder yang rapi akan meningkatkan produktivitas semakin rapi folder di komputer, semakin mudah mencari file yang ada. Semakin rendah tingkat stress yang bakal saya alami.

Eh di dalam folder “1s per day”, saya menemukan video yang lamanya enggak satu detik. Bermenit-menit. Ternyata rekaman saya dan Aris ketika “jalan-jalan” ke Tempat Pembuangan Akhir Bantargebang.

Alkisah, kala itu kami pulang dari rumah kenalan untuk pesan lemari. Ternyata… rumahnya jauh banget. Di bilangan Bekasi Timur, dekat Bantargebang. Ketika urusan sudah selesai, Aris penasaran. Memangnya benar kalau daerah ini dekat dengan Bantargebang…?

Jawab si kenalan, “Iya, deket! Paling cuma 5 kilometer dari sini!”

Dengan gagah perkasa kami langsung tancap gas ke lokasi.

Di perjalanan, kami makin sering mendapati truk-truk pengangkut sampah berukuran jumbo. Jalannya ngebut-ngebut semua. Ternyata kebanyakan truknya sudah “bongkar muat”. Wah, ini memang sudah dekat dengan Bantargebang!

Setelah sempat nyasar, akhirnya kami tiba di depan gerbang TPA yang konon katanya terbesar se-Asia Tenggara…. TPA Bantargebang.

Gerbangnya suram. Terdapat tulisan besar berbunyi “SELAMAT DATANG DI TEMPAT PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU (TPST) BANTAR GEBANG, KOTA BEKASI” yang sudah tua. Nampak logo-entah-apa-itu yang miring seakan mau copot dari gantungannya. Nampaknya sudah bertahun-tahun tidak dibersihkan (boro-boro).

Herannya, sepanjang perjalanan kami menemukan banyaaak sekali truk sampah yang wira-wiri. Tapi di depan gerbang ini, enggak ada truk sampah yang lewat. Satupun! Alhasil kami cuma bengong di depan. Tidak berani masuk.

Ngomong-ngomong, kami sudah mencium aroma sampah sejak jauh sebelum tiba di depan gerbang. Waktu di depan gerbang, baunya makin menjadi-jadi. Karena enggak tahan, aliran udara dari luar ditutup. Alhasil baunya hilang.

Setelah bingung dan cuma bengong di depan gerbang (ini beneran Bantargebang bukan sih?) (boleh masuk enggak, ya?) (nanti bakal dipalak enggak ?) (memang benar pemulungnya galak?), akhirnya ada mobil berpelat B yang melaju kencang dengan pede masuk ke gerbang. Kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Tadaaa!!!

[jwplayer mediaid="177"]

Kami memasuki Zona 1. Whoa.

Baru jalan sekitar 300 meter…. Saya melihat gunungan sampah yang sering disebut orang-orang (tidak terlihat di video). Gila, luar biasa tinggi memang. Gunungannya ditutupi terpal yang luar biasa besar. Entahlah berapa usia si gunungan sampah tersebut.

Tapi kok, baunya makin gila ya?

Padahal dalam kondisi normal, dengan kondisi aliran udara yang ditutup, asap Kopaja yang mengepul mantap tidak tercium! Ini, aromanya mampu menaklukkan “benteng pertahanan” udara mobil. Bagaimana aroma di luar mobil, saya tidak bisa membayangkan.

Dengan mempertimbangkan aroma (kenalan bilang, berdirilah di Bantargebang selama 15 menit, dan aroma baju yang kamu gunakan takkan hilang walaupun dicuci 2 kali), jalanan yang rusak, dan takut dipalak, saya memutuskan memutar balik.

Pulang. Mungkin kapan-kapan bakal main ke situ lagi.

PS: Folder “1s per day” terinspirasi dari Cesar Kuriyama. Dia merekam video selama satu detik per hari, selama 3 tahun. Selengkapnya bisa disaksikan di video TED berikut.

Masa kampanye Pemilu Presiden 2014 ini unik. Sebabnya tren yang berubah. Terutama di kota besar, kampanye lebih banyak dilakukan dari belakang layar laptop maupun hape ketimbang mendatangi orasi calon pemimpin.

Sayangnya banyak sekali pendukung basis internet yang perilakunya tidak elok. Baik pendukung calon x maupun calon y, tiada beda. Sikut kanan sikut kiri. Terpercik bara, api langsung menyala. Tanpa tengok substansi, tanpa klarifikasi, tanpa berpikir dan berlogika, langsung sebar sana serang sini.

Akibatnya hal yang diserang bukannya akar permasalahannya. Melainkan justru pribadi calonnya. Kalau sudah begini, bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah nambahin masalah. Bikin dosa pula.

Padahal kedua calon presiden dan juga pengamat politik yakin bahwa rakyat Indonesia sudah pintar. Tapi nyatanya logical fallacy (sesat pikir) masih mudah dijumpai di sana-sini.

Beberapa bulan lalu saya dapat foto ini dari internet. Ini adalah cara berlogika yang harus dilakukan oleh suporter dan fans kandidat.

10-commandments-of-rational-debate

Berikut terjemahnya, serta contoh kesesatan yang sering terjadi karena tidak mengindahkan poin tersebut.

1. Kamu tidak boleh menyerang karakter seseorang. Seranglah argumennya. (Ad hominem)

Contoh kesesatan: “Haha ngapain dengerin antek asing!”, “Haha lo percaya sama mantan penculik?”, atau mungkin “Dengerin dia aja! Kan dia ganteng/dia sudah berpengalaman!”. Ini adalah sesat yang paling mudah ditemui. Marilah belajar mendengarkan apa yang dia utarakan, dan kritisi substansi yang diutarakan. Jangan menyangkal argumen karena kita tidak menyukai orangnya; jangan pula menerima argumen hanya karena kita menyukai si penutur.

2. Kamu tidak boleh membalikkan atau melebih-lebihkan argumen seseorang supaya lebih mudah diserang balik. (Straw man fallacy)

Contoh kesesatan: Capres X berkata bahwa durian memiliki banyak duri. Sukro membesar-besarkan pernyataan Capres X. Dia berkata bahwa menurut Capres X, durian pasti memiliki lebih dari 100 duri. Sukro menghitung duri pada kulit durian dan ternyata jumlahnya hanya 99, sehingga premis Capres X salah. Padahal 99 tergolong banyak.

3. Kamu tidak boleh menggunakan sampel kecil untuk menggambarkan keseluruhan. (Hasty generalization)

Contoh kesesatan: Negeri x dan y adalah negara asing. Mereka mengeksploitasi kekayaan Republik Indonesia. Maka hindarilah campur tangan asing, karena seluruh negara asing pasti mengeksploitasi kekayaan Republik Indonesia.

4. Kamu tidak boleh mengatakan bahwa posisimu adalah benar, karena posisimu didukung oleh suatu premis. (Begging the question)

Contoh kesesatan: Kriting dan Hitam sedang berdebat mengenai keunggulan calon presidennya. Kriting berkata bahwa calon presidennya diramalkan akan selalu benar. Hitam bertanya, “Kenapa saya harus percaya dengan si peramal itu?” Jawab Kriting, “Karena peramal itu selalu benar.”

5. Kamu tidak boleh mengatakan bahwa sesuatu yang terjadi sebelum x, pasti penyebab terjadinya x. (Post hoc/False cause)

Contoh kesesatan: Sebelum Presiden X, rakyat Indonesia sejahtera. Tetapi pada masa Presiden Y, rakyat Indonesia tidak sejahtera. Maka Presiden Y adalah penyebab rakyat Indonesia tidak sejahtera.

6. Kamu tidak boleh mereduksi suatu argumen menjadi dua kemungkinan. (False dichotomy)

Contoh kesesatan: Pilih dia, atau kamu akan menyesal. Padahal bisa saja ketika x tidak memilih dia (i) atau dia (ii), dia akan bahagia. Atau justru menyesal. Atau biasa saja.

7. Kamu tidak boleh berkata bahwa karena ketidaktahuan kita, suatu klaim pasti benar atau salah. (Argumentum ad ignorantiam)

Contoh kesesatan: Kalau capresku benar-benar mencuri uang negara, pasti aku sudah tahu. Tetapi nyatanya aku tidak tahu. Jadi, capresku tidak mencuri uang negara.

8. Kamu tidak boleh membebani seseorang untuk membuktikan sesuatu yang kamu ajukan. (Burden of proof reversal)

Contoh kesesatanCapres gue keren, lho! Kalo lo enggak setuju, lo harus membuktikan bahwa capres gue gak keren!

Intinya adalah menyuruh lawan bicara mencari bukti kalau capres kita tidak keren. Ini tidak boleh.

9. Kamu tidak boleh mengasumsikan bahwa “ini” (this) mengikuti “itu” (that), ketika “itu” (that) tidak memiliki hubungan logika. (Non sequitur)

Contoh kesesatan: meski dia seorang Muslim yang taat, dia tidak mendukung penutupan warung saat bulan Ramadhan. Maka keislamannya perlu dipertanyakan.

Kesesatan poin 9 ini mirip dengan kesesatan poin 4. Hanya saja premis “itu” (that)-nya tidak sesuai dengan logika. Karena penentuan kadar keislaman antara lain dengan seberapa taat beribadah, sikap terhadap sesama, dll. dll. Bukan semata karena menolak penutupan warung.

10. Kamu tidak boleh mengklaim karena suatu premis populer, maka itulah yang benar. (Bandwagon fallacy)

Contoh kesesatan: Asmirandah aja suka baca harismustafa.com! Pasti harismustafa.com keren banget!

Hehe :P

BONUS: Kamu tidak boleh menyimpulkan bahwa runtutan kejadian B, C, D, hingga Z akan muncul karena terjadinya kejadian A. (Slippery slope)

Contoh kesesatan: Kalau Capres X terpilih, dia bakal menetapkan larangan keluar rumah di malam hari! Nanti pasti mall-mall enggak boleh buka sampai malam; angkot-angkot cuma sampai sore; TV di malam hari bakalan nyetel propaganda; ujung-ujungnya kita disetir banget deh!

Sebenarnya penalaran ini tergolong sangat penting. Jika digunakan dengan benar. Tapi nyatanya, penggunaan sehari-hari suka tidak rasional, dan hanya berdasarkan analisis suka-tidak suka seseorang; bukan berdasarkan bukti-bukti yang ada :(

Menjadi pintar

Sekarang, yuk jangan buat kecewa pengamat dan kandidat presiden. Mereka percaya bahwa masyarakat sudah kian cerdas. Kita harus membuktikan, bahwa kita memang sudah layak dibilang cerdas.

Ayo kita budayakan berpendapat yang anggun, serta berlatih menggunakan akal sehat.

Untuk melatihnya memang sulit. Untuk menghilangkan sesat pikir hingga 0% pun sangat sulit. Wajarlah, kita adalah manusia yang tidak hanya diberi rasio (akal), tetapi juga emosi. Tetapi, untuk mengurangi sesat pikir dari 70% menjadi 40%, atau bahkan 0%, tidaklah mustahil.

 Mengingat ujaran Pitagoras,

 Jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.

—————————————————–

PS: sesungguhnya masih ada banyak lagi sesat pikir. Ini hanya 10 dari sekian banyak. Sisanya, Anda bisa merujuk ke laman Wikipedia Indonesia, atau ke laman berbahasa Inggris ini.

Update: saya tulis satu tambahan bonus kesesatan yang sering terjadi: slippery slope. Plus, saya mengganti contoh yang ada dengan contoh yang lebih ngena, karena kawan saya Tidar bilang contoh yang ada terlalu subtle.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,664 other followers