Kalau di tofaninoff bloginova saya enggak pamitan, di sini saya mau pamitan.

Mulai hari ini, saya berhenti menulis di sini. Tak ada lagi tulisan dengan nama penulis tofaninoff. Alasannya: ingin lebih serius, ingin lebih terlihat “tulisannya dapat dipertanggungjawabkan”.

Image

Mulai hari ini, blog saya pindah ke harismustafa.com. Akan lebih banyak tulisan bukan opini di sana. Sebabnya karena postingan terakhir saya di sini: Blog standar enigma. Sebisa mungkin saya membuat tulisan yang jauh lebih bagus dan lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Plus, karena blognya pakai nama asli saya… siapa tahu saya bisa lebih terkenal, hehe :D

Salam!

Pembuka: saya suka sekali “menyiksa diri”. Waktu SMP, saya pernah ke Kutoarjo sendirian naik kereta tak ber-AC yang sesak dan (kala itu) masih banyak yang merokok di kabin. Waktu SMA, backpacking ke Bandung 3 hari 2 malam dengan bujet 110 ribu rupiah. Bahkan pernah naik gunung Gede dengan (tololnya) cuma bawa sarden 3 kaleng, roti 1 bungkus, tanpa beras dan juga kompor, plus senter yang baterainya tidak bisa dilepas. Untungnya saya bisa pulang lagi ke rumah dengan selamat.

Kemarin, kami ke Singapura dengan bujet hanya 175 dolar Singapura. Buat perbandingan, harga sarapan Nasi Lemak S$3,5 dolar. Harga sabun cuci muka Garnier yang di Indonesia cuma 15 ribuan, di Singapura S$11 (Rp110.000). Harga objek wisata rata-rata S$20. Jadi, S$175 itu sedikit banget.

Tentunya ada cara menyiasatinya. Mulai dari menginap di rumah kawan yang kuliah di Singapura, mempersiapkan perjalanan dari berbulan-bulan sebelumnya, hanya membeli oleh-oleh yang tidak umum dan tidak ada di Indonesia, serta tidak lapar mata adalah trik jitu.

Di depan National Museum of Singapore. Museum terambisius yang ada di Asia Tenggara.

Di depan National Museum of Singapore. Museum terambisius yang ada di Asia Tenggara.

Menggelandang bersama WNI yang sudah lama tinggal di Singapura itu priceless. Bisa mengunjungi tempat yang turis tidak tahu; cerita kehidupan Singapura yang takkan bisa dilihat dan didengar orang yang hanya singgah dalam hitungan hari; dan tidur di tempat Warga Negara Singapura tinggal merupakan sensasi yang berbeda.

Memenejemen perjalanan sejak masih di rumah itu seru. Mempertimbangkan rute perjalanan yang paling efisien dan dekat dengan tempat ibadah merupakan tantangan tersendiri. Beli oleh-oleh yang enggak lumrah juga lebih memuaskan ketimbang membeli gantungan kunci yang tak bisa bertahan lama.

Hasilnya, dari jalan-jalan singkat ini ada banyak judul tulisan yang bisa dibuat. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan warga Singapura, gaji dan kehidupan kerja di sana, kebiasaan turis Indonesia, Penguasa Angkutan Darat, hingga keselamatan kerja yang ada di Singapura.

Cepat atau lambat, akan saya tulis semua. Semoga bisa menjadi bahan tawaan dan juga pelajaran bagi kita semua!

Halo! Perkenalkan mata wayang di balik website ini, Jaka Haris Mustafa.

Biar blur, yang penting bahagia!

Biar blur, yang penting bahagia!

Saya sudah pernah menulis di dua blog: tofaninoff wordalana dan tofaninoff bloginova. Rasa dirasa ingin pindah ke domain sendiri, terbuatlah weblog yang satu ini.

Terdorong dengan beberapa weblog luar negeri seperti Ars Technica, Slate, dan blog dalam negeri seperti Blog misteri enigma yang notabene sangat berkualitas, weblog ini juga akan menawarkan tulisan yang menarik dan kredibel.

Jika di dua blog saya sebelumnya mengandung banyak opini, tidak demikian di sini. Weblog ini memiliki 5 kategori: #bahasa, #duit, #pendidikan, #sains, dan #sudutpandang (besar kemungkinan akan bertambah). Di 4 kategori pertama, saya hanya akan menulis tentang sesuatu. Seperti halnya reportase atau artikel pendek. Sementara tulisan yang berbau opini hanya terdapat di #sudutpandang.

Lukisan bapak seni rupa Indonesia S. Soedjojono yang menjadi gambar fitur (featured image) tulisan ini juga salah satu hal baru yang tidak ada di blog sebelumnya. Mulai dari sekarang, setiap tulisan akan saya beri gambar fitur berupa lukisan atau seni rupa lainnya. Seni yang dipajang tidak nyambung dengan isi tulisan? Enggak masalah. Karena saya rasa kita perlu juga berkenalan dengan karya seni yang tidak biasa, yang tidak ada di televisi.

Seiring dengan aktifnya weblog ini, dua blog pertama saya tidak akan saya perbarui lagi. Capek dan repot, lho, mengurus banyak blog. Lebih baik di sini saja. Jika pembaca menemukan tulisan menarik di dua blog saya yang terdahulu, semoga pembaca berkenan menyebarkannya ke kolega dan kerabat :)

Di sela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa dan juga pengasuh di Taman Baca Bulian, saya meminta pembaca untuk maklum jika saya tidak dapat memperbaharui weblog ini secara konstan. Oh ya, kalau pembaca ingin memberikan donasi buat saya (buat beli buku baru, menambah kapasitas hosting, atau sekedar beli es krim) diperbolehkan sekali :P

Salam!

PS: Lukisan oleh S. Soedjojono, judul Pertempuran Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen, dibuat tahun 1973 dengan media cat minyak di atas kanvas.

Siapa tahu situs Enigma? Dulu banget, teman saya Rizky memperkenalkan situs itu. Katanya, isinya bagus banget. Ternyata memang begitu! Entrinya ditulis dengan apik, data dan analisisnya juga sangat mendalam. Bayangkan, untuk blog misteri yang notabene jarang, dan sulit untuk membuktikan suatu misteri itu benar atau hanya sekedar hoax, Enigma mencari faktanya hingga saaaaangat jauh, lebih jauh dari Sabang sampai Merauke. Kalau belum tahu situsnya, ayo dibuka dan dibaca-baca!!

Nah, sejak saya kenal blognya Enigma, saya jadi punya standar Enigma: setiap entri tulisan harus mendalam dan valid.

Tapi ternyata menulis yang seperti itu sangat sulit. Untuk proses penulisan satu entri saja saya bisa menghabiskan 10 jam. Bahkan ada satu entri yang menghabiskan waktu 24 jam penulisan. Untuk saya yang notabene lagi penuh jadwal kuliah, dan mata kuliahnya mulai seram-seram, menulis selama itu hampir enggak mungkin. (Dari mana saya tahu itu? Microsoft Word 2013 menyediakan fitur ringkasan, yang membantu kita mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu dokumen)

Selain itu, sepertinya pembaca entri yang mendalam seperti itu juga enggak sebanyak yang singkat-singkat ya :)

Nah, akhirnya belakangan ini saya hanya pos entri yang pendek-pendek. Agak gatal sih, mengingat harus turun standar. Tapi setelah dipikir, nampaknya lebih baik begitu ketimbang blog saya kosong enggak ada isinya.

Anyway, mungkin teman-teman yang baca blog ini bisa ikutan jadi member “Blog standar Enigma” dan bikin kopdar, haha :)

Iklan KFC di harian Kompas Selasa, 29 Oktober 2013

Iklan KFC di harian Kompas Selasa, 29 Oktober 2013

Belakangan ini saya tertarik mengamati iklan-iklan KFC. Hal pertama yang bikin tertarik, sekitar satu tahun lalu mereka meluncurkan website barunya kfcku.com. Tak hanya itu, mereka meluncurkan slogan baru “Terus BerINOVASI”. Seiring dengan diluncurkannya slogan baru, mereka terus berinovasi dengan meluncurkan hampir satu produk baru setiap bulannya.

Ini menarik, sebab meskipun mereka telah memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia (coba deh kalau pergi ke suatu tempat yang belum dikenal dan lapar, biasanya yang dicari adalah fastfood semacam KFC!), mereka tetap melakukan perubahan. (Mungkin) salah satu pemicunya hal sepele: ayam goreng tepung mirip KFC di pinggir jalan.

Cobalah tengok, rasa ayam goreng tepung di pinggir jalan sudah mulai menyamai ayam KFC. Meskipun rasanya baru sekedar mirip, namun masyarakat mulai berpikir dua kali untuk jajan di KFC. Faktor daya beli masyarakat yang menurun karena harga barang naik, rasa ayam goreng tepung pinggir jalan yang enggak kalah enak, plus toko ayam pinggir jalan yang dekat dengan rumah atau kosan, menyebabkan masyarakat lebih memilih ayam goreng pinggir jalan.

Kalau masyarakat sudah tidak tertarik lagi dengan KFC, restoran bikinan Kolonel Sanders ini akan hengkang dari Indonesia.

Tapi mereka tidak mau menyerah pada keadaan. KFC juga cerdas, tidak seperti sopir taksi di beberapa daerah yang menolak kedatangan Blue Bird. Mereka berinovasi.

Seperti ujaran Albert Einstein,

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”

KFC bukannya melihat pedagang ayam di pinggir jalan sebagai hambatan, justru membiarkannya. KFC tidak menuduh pedagang ayam mencuri resep rahasia yang telah disimpan bertahun-tahun. Mungkin karena menurut KFC, pedagang ini juga berjasa mengurangi angka pengangguran.

Hebat, lho. Dengan begitu, KFC menawarkan banyak produk ke masyarakat. Masyarakat enggak bosan lagi dengan kuliner yang hanya ayam doang. Benefit lainnya, KFC (bisa jadi) tetap mendapatkan hati di masyarakat Indonesia.

Ini keren, lho. Saya jadi ingat ujaran orang tua saya. Dulu, saya dapat nilai jelek di suatu mata pelajaran. Kemudian, orang tua memarahi saya. Saya membela diri dengan mengatakan, itu salah guru saya! Dia mengajarnya tidak benar! Saya tidak dapat mengerti apa yang dia ajarkan!

Eh, saya malah dimarahi balik. Jangan menyalahkan keadaan, kamulah yang harus berubah!

******

PS: saya bukan karyawan KFC, bukan pula pelanggan setia KFC. Saya enggak dibayar apa-apa oleh KFC. Hanya tertarik saja dengan fenomena inovasi yang digencar-gencarkan oleh KFC.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,664 other followers