Negeri kita kekurangan orang bersih. Kekurangan jumlah pemimpin tegas dan kompeten. Kekurangan pejabat negara yang bertanggung jawab. Kekurangan jumlah peneliti. Kekurangan publikasi jurnal internasional. Kekurangan jumlah tenaga pendidik yang berkualitas. Kekurangan dokter. Kekurangan jumlah rumah sakit dan kamar rumah sakit[1]. Kekurangan wirausahawan. Wirausahawan pun dibuat bingung karena sulit mencari tenaga kerja yang handal. Kekurangan industri hulu dan industri strategis. Kekurangan siswa yang kasmaran dengan apa yang dipelajari. Kekurangan judul buku yang diterbitkan per tahun. Kekurangan acara televisi berkualitas.

Dari 240 juta penduduk, kenapa kita serba kekurangan? Ngapain aja manusianya? Read the rest of this entry »

Sore tadi ada anak mencari buku tentang sains. Wah, tumben-tumbenan nih. Disodorkan beberapa buku mulai dari RPAL sampai semacam ensiklopedi ringan. Tapi dia berkata, “Buku yang ada soalnya, Kak.”

Saya bilang tidak ada. Soalnya di Bulian sendiri memang tidak ada buku pelajaran semacam itu. Saya bilang kalau dari buku-buku pop semacam “Hewan Berduri dan Beracun” atau ensiklopedi makhluk hidup bisa dibuat soal. Guru pun mungkin bakalan kesengsem kalau soal yang dibuatnya di luar mata ajar yang ada di sekolah. Tapi mereka seperti tidak berminat.

Ya sudah, saya sedikit menyerah. Lalu saya coba cari tahu mereka sedang belajar bab apa, siapa tahu buku untuk menyusun soalnya bisa dicocokkan. Mereka hanya menggeleng-geleng kecil. Dalihnya lupa sedang belajar apa. Bagaimana kalau itu merupakan indikasi anak tidak memahami dan menyukai apa yang dipelajari di sekolah?

Uhm, sedih deh rasanya. Datang ke sekolah tapi tidak paham apa pelajaran yang sedang dibahas. Mereka juga tidak berminat untuk menggali lebih dalam materi yang ada di sekolah. Meskipun membuat soal bukan perkara mudah, tapi toh sebenarnya bisa membuat soal dari buku-buku selain buku pelajaran.

Misalnya jika mereka sedang belajar tentang macam-macam energi dan bentuk perubahan energi. Siapa tahu di buku sekolah tidak ada penjelasan mengenai panel surya. Kalau mereka ingin iseng dikit, bisa saja setelah baca ensiklopedi ringan tentang energi mereka bisa membuat soal “Apa alat yang mengubah energi matahari menjadi energi listrik? Bagaimana cara kerjanya?” Guru mana coba yang tidak senang punya murid seperti itu?

Memang tidak mudah untuk membentuk anak yang kasmaran terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Tapi itu bukan tak mungkin kok. Sangat mungkin.

“Do you want to sell sugared water for the rest of your life? Or do you want to come with me and change the world?” -Steve Jobs, ketika menawarkan posisi CEO Apple kepada John Sculley, CEO Pepsi

Steve Jobs

Kutipan epik yang terdapat di biografi Steve Jobs tersebut efektif membuat saya terpingkal. Tetapi setelah diresapi, kalimat satire tersebut justru menonjok saya habis-habisan. Apa yang sejauh ini telah saya lakukan? Menjual air bergula saja belum pernah.

Mengutip Jobs, salah satu cara mengubah dunia (dan mengubah Indonesia) adalah dengan melakukan terobosan dan inovasi. Mendirikan usaha yang mampu bersaing dan bernilai tinggi adalah salah satunya. Berwirausaha bisa menambah pendapatan negara, memfokuskan arus uang di negeri sendiri, menambah kualitas hidup masyarakat, menyerap tenaga kerja terdidik, dan masih banyak lagi.

Sedihnya jumlah wirausahawan di Indonesia masih kurang. Berita ini sering sekali kita lihat di surat kabar, majalah, ataupun media daring. Dari 240-an juta penduduk Indonesia, yang berminat untuk menjadi seorang wirausahawan baru 3,7 juta orang alias 1,56%-nya. Angka ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan negara lain. Jumlah wirausahawan di Malaysia saja mencapai 4% dari total penduduknya. Singapura lebih hebat lagi, mencapai 7,1%. Negara adidaya Amerika Serikat jangan ditanya: 12,3% warga Amerika dewasa pernah terlibat dalam kewirausahaan. Efek sampingnya, negara kita baru bisa mengonsumsi, belum mampu memproduksi.

Untungnya berita tersebut tidak dianggap isapan jempol. Menurut survey SWA pada Maret 2013, minat kaum muda dan mahasiswa untuk membuka usaha semakin besar.

Bangga dong melihat tumbuhnya tren berwirausaha di kalangan muda.
Read the rest of this entry »

*Ehm, lagi iseng buat tulisan untuk Sosma Metalurgi Material UI. Enjoy!

Siapa tak kenal Martin Luther King Jr., pahlawan anti-rasisme dan anti-segregasi asal Amerika Serikat. Tokoh berkulit hitam revolusioner ini meraih gelar doktoral teologi sistematik dari Boston University pada tahun 1955. Setelah bertahun-tahun barulah diketahui bahwa King Jr. melakukan plagiat pada disertasinya. Pada review jurnal yang diselenggarkaan tahun 1989-1990, Universitas Boston menemukan bahwa sepertiga disertasi King Jr. adalah hasil salinan mentah tanpa sitasi dari disertasi lain.

Bahkan pidatonya dia yang teramat mahsyur, “I Have a Dream”, diketahui meniru pidato Archibald Carey Jr. yang diberikan pada Konvensi Nasional Partai Republikan (RNC) pada tahun 1952. Wow!

Institusi pendidikan ternama Harvard University pun dibuat geger oleh kasus plagiarisme. Pada 2012 terjadi skandal plagiarisme berjamaah yang melibatkan 125 mahasiswa. Media memberitakan bahwa ke-125 mahasiswa itu menyontek ujian akhir bawa-pulang mata kuliah Introduction to Congress yang diajar oleh Prof. Matthew B. Platt. Diketahui penyebab menyontek berjamaah itu karena sang Professor sangat murah nilai. Ini menyebabkan mahasiswa cenderung memilih untuk menyontek pekerjaan milik teman, karena toh akan diberi nilai yang bagus.

Tak hanya di luar negeri, di Indonesia marak ditemui kasus plagiarisme. Tiga tahun silam dunia pendidikan Indonesia dibuat heboh dengan kasus plagiarisme yang dilakukan Dr. Mochammad Zuliansyah. Makalah yang dipublikasikan doktor lulusan ITB di konferensi IEEE China tahun 2008 ini merupakan jiplakan dari makalah milik Siyka Zlatanova, seorang ilmuwan asal Austria. Read the rest of this entry »

Bulan Desember lalu saya pertama kali ikutan lomba nulis. Saat itu penyelenggaranya Pemburu Beasiswa. Pilihan temanya tentang pendidikan. Wah, pas banget. Saya coba lah nulis. Niatnya iseng, juga buat menyalurkan ide kepada khaalayak ramai.

Setelah studi literatur berhari-hari dan nulis berjam-jam yang bikin kepala pusing luar biasa, akhirnya tulisan jadi juga. Dikirim mendekati deadline, jam 11:30an malam (kebiasaan) :P

Ini dia tulisannya.

Setelah menunggu berhari-hari, ternyata pengumumannya baru di bulan April. Tanggal 27. Kemudian kemarin dan hari ini saya dag-dig-dug karena yang submit tulisannya mencapai 700 mahasiswa….

Kemudian tadi siang waktu sedang jaga Bulian, Bang Ferry ngechat saya. Katanya pengumuman udah keluar. Jder. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,595 other followers